Friday, January 19, 2007

taman surga di dunia...

ada satu tempat lagi yang tak boleh dilewatkan di masjid nabawi yaitu raudah yang merupakan tempat di antara rumah rasulullah dan mimbar masjid. meski sekarang letaknya berdekatan dengan makam nabi, untuk bisa masuk ke dalamnya benar-benar perlu perjuangan fisik. badan kami dibandingkan dengan jemaah dari negara-negara lain jelas kalah.

apa yang menyebabkan semua jemaah berebutan ingin sholat di raudah? adalah sabda nabi yang berbunyi: ‘di antara rumahku dan mimbar masjid adalah taman surga.’ inilah taman surga yang ‘dipindahkan’ ke dunia. raudah juga merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa (selain multazam dan padang arafah). makanya tak heran setiap saat raudah selalu penuh sesak. setiap jemaah pasti ingin bersholat dan berdoa di sana. apalagi masjid nabawi tidak dibuka 24 jam seperti masjidil haram.

meski demikian selalu ada kiat untuk dapat memasuki raudah dan tentu saja dilandasi niat yang tulus kepada allah swt semata, insya allah kita dapat bersholat di sana. jam-jam menjelang tutup atau sekitar jam sepuluhan pagi hari biasanya raudah agak sepi sehingga kemungkinan untuk masuk lebih besar. dan, alhamdulillah, dengan dibantu pembimbing ibadah kami berhasil memasuki raudah. yang lebih lagi kami juga sempat sholat ashar di situ. subhanalah. alhamdulillah.

apa yang saya sebutkan di atas berlaku untuk jemaah pria. bagi jemaah wanita raudah hanya dibuka pada jam-jam tertentu yaitu pada waktu dhuha dan ba’da sholat dhuhur. meski waktunya lebih sedikit tapi tidak bercampur-baur dengan jemaah pria sehingga jemaah wanita tidak perlu rebutan dengan kaum pria. dan, tidak seperti di masjidil haram jemaah bercampur baur, di mesjid nabi pria dan wanita dipisahkan bahkan pintu masuknya juga dipisah.

bagi pasutri alias pasangan suami istri pintu masuk yang berbeda agak merepotkan. saat masuk tidak menjadi masalah karena pasutri itu langsung ‘berpisah’ untuk sholat. ketika keluar jadilah tunggu-menunggu. jadi pemandangan lumrah kalau ada suami menunggu istri atau sebaliknya. tapi akan jadi kacau manakala sang suami sudah lama menungu di ‘check point’ yang ditentukan bersama namun sang istri tak muncul-muncul. setelah celingak sana dan celinguk sini, sang istri tercinta muncul dengan dua tentengan tas kresek di tangan kiri dan kanan…

paripurnanya arbain...

selepas acara di mekah kami berpindah ke kota madinah yang dijuluki sebagai ‘kota yang bercahaya’. apa yang kami kerjakan di madinah tidaklah berbeda ketika saat di mekah. malah di sini ada ‘kewajiban’ mengerjakan sholat arbain. barangkali sudah banyak yang tahu tentang sholat arbain yaitu sholat wajib berjemaah 40 waktu tanpa terputus.

tanpa terputus? iya betul. dan, tidak boleh ketinggalan rakaat pertamanya. untuk 40 waktu itu berarti kita harus berada di madinah minimal delapan hari dengan hitungan satu hari 5 waktu sholat fardu. kalau di hari pertama sudah ketinggalan rakaat pertama, di sholat subuh misalnya, itu artinya kita tak bisa menggenapi sholat arbain. (mau menambah satu hari lagi? rasanya ya tak mungkin karena jadwal perjalanan sudah disusun sejak dari Jakarta). bagaimana kalau sudah 39 waktu dan untuk yang ke 40 ketinggalan rakaat pertamanya? jawab idem seperti di hari pertama itu.

sholat arbain ini, nampaknya, hanya dilakukan oleh jemaah haji dari indonesia. sementara jemaah dari negara lain kelihatannya lebih memprioritaskan untuk sholat di masjidil haram. apa alasannya? barangkali soal pahalanya. dan, arbain selalu menjadi ‘pertanyaan wajib’ yang diberikan kepada calon jemaah haji sebelum berangkat. pun ketika kembali ke tanah air akan ada pertanyaan: ‘sempat arbain tidak?’ sama ‘wajib’nya dengan pertanyaan: ‘sempat mencium hajar aswad tidak?’

kalau di mekah ada masjidil haram, di madinah ada masjid nabawi. di masjid nabawi selain bersholat arbain, kami juga menziarahi makam nabi muhammad saw yang berdampingan dengan makam dua orang sahabat yaitu abu bakar ash sidiq dan umar bin khattab. makam rasulullah ini juga adalah tempat rasulullah wafat.

di sini saya kembali menitikkan air mata. desak-desakan dan dorong-mendorong tidaklah menjadi soal. betapa tidak. dengan seijin allah swt, subhanalah, saya bisa bershalawat langsung di makam nabi. memohon doa kepada allah swt agar rasulullah diberikan tempat yang paling dimuliakan. dan, juga meminta agar nanti kami dibariskan di bawah bendera nabi muhammad saw saat di padang masyhar waktu penghisaban. ya gusti allah kabulkan doa kami ini...

'tawaf' di pasar seng...

itulah cerita kami saat di tanah suci mekah... hari-hari selanjutnya di mekah adalah antara hotel dan masjidil haram. alias ibadah, ibadah dan ibadah. memang inilah yang sebaiknya kita lakukan di sana (meminjam kata pak uztad). bukannya ‘tawaf’ di pasar seng untuk membeli segala macam pernik cendera mata.

jadi beli oleh-oleh tidak boleh dong? tentu saja boleh dan tidak dilarang. tapi, barangkali, ada baiknya, oleh-oleh tidak menjadi prioritas utama. kalaupun mau membeli juga, masih mengutip pak uztad (kok ngutip mulu ya :d), belilah di mekah. barangnyapun tak perlu yang aneh-aneh serta mahal. dan, ini yang lebih penting, saat memberikan oleh-oleh itu katakanlah: “insya allah oleh-oleh ini membangkitkan niat anda untuk berhaji.”

selama di mekah sholat wajib yang lima waktu pastinya kami lakukan di masjidil haram. rugi abis kalo dilewatin mah :d. apalagi masjidil haram terbuka selama 24 jam. ibaratnya anda mau menginap dan tak pulang ke hotel pun tak ada masalah. apalagi semua sholat sunnat disana adalah halal. tak ada batasan sholat sunnat seperti hari-hari di tanah air. mau rawatib silakan. tahajud tak masalah. itikaf ya monggo. tadarusan kalau tak membawa al quran di sudut-sudut tertentu disediakan, tinggal membaca.

terus pahala sholat di masjidil haram adalah seratusribu setiap kali sholat. tapi, soal pahala saya pikir tak perlu dihitung-hitung ya. masak sih kita menghitung-hitung sudah dapat berapa ya pahalanya. bagi saya pribadi, subhanalah, nikmatnya sholat di sana adalah saya benar-benar sholat. dalam artian tidak memikirkan soal kerjaan yang belum beres serta soal tetek-bengek lainnya. pokoknya sholat dan langsung memandang kabah di depan.

kalau sudah demikian, nikmat allah swt yang mana lagi yang ingin dicari? tak menjadi masalah sholat di anak tangga sekalipun. atau menunggu sholat jumat sejak pukul sepuluh sementara waktu jumatan adalah pukul setengah satu. atau sholat sambil disirami teriknya sinar mentari. atau menikmati semilirnya sang bayu yang dingin sambil menunggu sholat isya…

ya allah, ijinkan aku untuk kembali ke tanah suci mekah…

eh, pake kopiah putih...

sa’i juga kami lakukan dengan santai. yang agak ribet buat kaum lelaki adalah karena masih berpakaian ihrom. soal melangkah tidak ada masalah, sepanjang memakai kain ihromnya benar tak ada bedanya dengan memakai kain sarung. jadi jangankan melangkah berlari pun bisa kalau mau. kain yang bagian atas yang seringkali harus dirapikan agar tak terjatuh. buat wanita tak ada masalah karena ihromnya seperti hendak sholat.

sa’i dimulai dari bukit safa dan harus berakhir di bukit marwah, dengan catatan hitungannya harus benar yaitu sebanyak tujuh kali. bagaimana cara menghitungnya? dari safa menuju marwah dihitung satu kali lantas ke sofa lagi dihitung dua kali dan seterusnya. (kalau benar pasti finish di marwah, coba deh hitung :d). kalo ragu sudah berapa kali ini yang repot. kita harus mengulang dari awal alias dari hitungan pertama.

itu caranya menghitung sa’i. kalau tawaf menghitungnya seperti ini. hitungannya sama 7 alias tujuh kali mengelilingi kabah. agar tak lupa ada yang memberikan kiat memakai karet gelang tujuh buah. ada juga yang memakai tasbih. pun yang menggunakan memori. bagaimana kalau ragu sudah hitungan ke berapa? jangan takut, ambil saja hitungan paling sedikit dan teruskan hingga ke tujuh.

balik lagi ke sa’i. sambil berjalan saya membayangkan saat siti hajar berlari-lari antara ke dua bukit itu. di bukit gersang dengan udara yang panas. hanya berdua dengan seorang bayi ismail as. putus asa mencari air. sementara saya dan jemaah yang lain hanya berdesak-desakan. resikonya paling didorong. lantainya juga licin. ada kipas angin pula. kalau dahaga bisa minum air zam-zam sepuasnya. kalau masih mengeluh juga, mengutip teman saya, ini namanya keterlalunan bukan keterlaluan lagi. astagfirullah.

saat finish di marwah urutan selanjutnya adalah mencukur rambut. dipotong pendek lebih afdhal. pendek artinya cepak setengah senti-an. kalau gundul lebih bagus. tapi saya saat itu cuma memotong sedikit rambut sebagai pertanda saja. (tapi waktu tawaf ifadah saya pun membotaki kepala juga dan komentar teman: rahib shaolin naek haji ni :d). untuk urusan gundul-menggunduli ini tak perlu repot-repot. keluar masjid kitapun akan dipanggil para tukang cukur (barbar shop namanya di sana). biayanya hanya 5 riyal dan dalam waktu 2 menit selesai.

selesai sa’i berarti selesai juga umrohnya. kami pun sudah menjadi haji kecil alias haji umroh. kebiasaan orang kita adalah mengenakan peci putih sebagai simbol sudah haji. nah, ada beberapa teman serombongan yang lantas memakai kopiah putih. sebenarnya mereka belum boleh memakainya karena belum haji ‘full’ yang ditandai dengan wukuf di arafah.

yah pak buru-buru amat sih pengin pake kopiah...

Thursday, January 18, 2007

antara safa dan marwah...

lanjut ya: oh, ya, dahulu untuk memulai tawaf sebagai patokan adalah garis coklat di lantai masjid namun belakangan garis itu dihilangkan karena semua jamaah berhenti di situ untuk memulai dan mengakhiri tawaf sehingga mengganggu jamaah yang sedang bertawaf. sebagai ganti garis itu adalah lampu hijau yang ada di sebelah kanan menempel pada dinding masjid.

usai tujuh putaran mengelilingi kabah, kami sholat sunnat dua rakaat di belakang maqam ibrahim as tanpa diganggu orang yang sedang lalulalang bertawaf. lantas dilanjutkan dengan berdoa. yang paling afdhal adalah berdoa di multazam – letaknya antara hajar aswad dan pintu kabah – insya allah doa di multazam dikabulkan allah swt. namun kalau ingin berdoa di situ berarti kami harus memotong jalur jamaah yang sedang tawaf.

akhirnya diputuskan kami berdoa dekat maqam ibrahim as tapi dengan mengarah ke multazam. rasa kaget dapat melihat dan bersholat di depan kabah belumlah hilang dan akibatnya adalah semua doa yang ingin dilantunkan malah lupa. sepertinya ‘blank’ padahal sejak di tanah air sudah disusun doa-doa yang akan dibacakan disitu. barangkali saking ‘excited’nya semua ingin didoakan tapi hasilnya malah bingung sendiri, astagfirullah.

selesai berdoa, sesuai urut-urutan manasik haji, yang kami lakukan adalah minum air zam-zam. dahulu sumur zam-zam masih terbuka namun sekarang sudah ditutup. tapi air zam-zam tetap ada yang ditempatkan pada semacam bejana dan kita bebas untuk meminumnya. sebenarnya air zam-zam ada di seputaran masjidil haram namun entah mengapa selalu saja jamaah berdesakan dan berebutan ketika akan meminumnya. ada doa khusus untuk meminumnya tapi karena (dianggap) meminum untuk pertama kali, doanya adalah mohon dibebaskan dari penyakit yang diderita.

kemudian setelahnya kami melakukan sa’i antara bukit safa dan marwah. sungguh bayangan saya, ini adalah bukit terbuka beratapkan langit. tapi itu adalah jaman dahulu saat siti hajar berlari-lari antara dua bukit itu untuk mencari air. sekarang sih bukit ini menjadi bagian dari masjidil haram. berlantaikan marmer dan kalau kepanasan itu semata karena banyaknya jemaah yang bersama-sama melakukan sa’i…(ilustrasi suasana sa'i dipinjam dari sini.

hati dari batu...

saya lanjutkan ceritanya ya: tak kurang dari sembilan jam mengudara, kami tiba di bandara haji king abdul aziz. di tanah air kami diingatkan bahwa proses administrasi bisa berlangsung 5-6 jam. jadi kami harus menunggu pemeriksaan paspor dan penyelesaian bagasi selama itu dalam pakaian ihrom. namun alhamdulillah 2 jam selesai semuanya. sekitar jam 24-an kami menuju mekah. setelah melewati beberapa check-point kami tiba di mekah hampir jam setengah lima pagi.

saat akan memasuki kota suci mekah, dari bus, kami sempat melihat menara masjidil haram. subhanalah, baru melihat menaranya saja perasaan sudah tak menentu. pengin rasanya cepat-cepat sampai di sana. awalnya kami akan langsung umroh tapi ditunda setelah sholat subuh. sekitar jam tujuh-an kami menuju masjidil haram. alhamdulillah jarak hotel ke masjid 50meteran (tapi sampai depan masjid alias pelataran paling luar. jadi ke dalamnya tambahkan lagi dengan 300meteran.).

‘hanya mereka yang hatinya dari batu takkan menangis saat melihat kabah,’ ujar pembimbing ibadah kami. duh gusti allah, adakah saya termasuk golongan itu, dalam hati saya membatin. perasaan campur-aduk bergulung-gulung di kalbu saat kaki melangkah memasuki masjidil haram. ketika babus salam (inilah pintu utama yang disunahkan nabi muhammad saw untuk dimasuki saat pertama kali memasuki masjidil haram) dilewati hati semakin tak menentu. doa pun dilantunkan. ketika sosok kabah terlihat, subhanalah, ‘engkau ijinkan kami ke rumah-mu ya allah’, kami berhenti kembali untuk berdoa dan ya allah, alhamdulilah, tak terasa air mata menetes meski tak berderai.

nikmat-mu yang mana yang akan kami nafikan ya allah? kau ijinkan kami sholat langsung di depan kabah yang biasanya hanya kami bayangkan. sungguh sebuah pengalaman rohani yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. selesai berdoa kami turun ke pelataran untuk bertawaf. masih diliputi suasana hati yang haru-biru kami memulai mengelilingi kabah.

alhamdulillah, karena tiba di mekah di minggu kedua desember, masjidil haram belum terlalu padat. tawaf kami lakukan tanpa tergesa-gesa dan berdesak-desakan. tiga putaran pertama dapat kami jalani dengan berlari-lari kecil. hati rasanya masih bingung. masih seperti mimpi: benarkah saya di kabah? alhamdulillah dinginnya lantai marmer masjid menyejukkan hati…

Wednesday, January 17, 2007

sulit tidak sulit ya berangkat...

kabahmemo: diantara komentar-komentar ada yang menginginkan saya berbagi ‘kisah spiritual’. saya pribadi sebenarnya tidak sepenuhnya jelas mengenai ‘kisah spiritual’. adakah ia semacam sinetron di layar kaca atau seperti di majalah-majalah. kalau itu yang dimaksud, kisah saya tidaklah sedramatis itu. posting-an berikut hanyalah cerita biasa pengalaman saya selama menunaikan ibadah haji.

siapkah anda berhaji? saat tanya ini sampai pada saya, jawabannya adalah insya allah siap. dan, proses administrasi pun dijalankan yang sejak maret 2006 berjalan. kepastian untuk berangkat saya dapatkan di bulan agustus. dan, september dimulai manasik haji.

bayangan saya dahulu mengenai haji adalah ibadah yang sulit untuk dijalankan. membaca dan mendengar cerita haji kayaknya berat banget. ditambah lagi dengan uraian saat manasik, semakin lengkaplah ‘kesulitan’ itu: “ibadah haji bukanlah piknik atau bersenang-senang.” kisah yang diceritakanpun adalah saat sulit di tanah suci mekah. seperti antre saat menggunakan kamar mandi dengan ‘waiting list’ 10-15 orang yang kondisi kamar mandinya seadanya.

duh, apa saya bisa melewatinya. itu saja baru yang diceritakan belum yang akan dialami nanti. tapi saya juga ingat bahwasanya “kita tidaklah dibebani dengan sesuatu yang lebih dari kemampuan yang ada”. jadi dengan mengucap basmallah saya (dan dua kawan lain sekantor) jalani semuanya hingga tuntas...

sebelum berangkat bahkan hingga tiba di tanah suci yang selalu diingatkan kepada para calhaj (calon haji) adalah sabar, sabar dan sabar (kalau perlu bawalah koper cadangan yang isinya sabar). tanggal 11|12|06 saat menunggu masuk untuk boarding di bandara soekarno-hatta ya harus sabar. melewati pemeriksaan troley ya sabar lagi. tinggal masuk pesawatpun tetap sabar.

biar gak kepanjangan (dan biar kelihatannya banyak posting-an :d), ceritanya saya potong disini ya…

Thursday, January 11, 2007

syukur alhamdulillah...

zam-zam







dengan seijin allah swt
saya dan kawan-kawan
diperbolehkan untuk melakukan tikam jejak
nabi ibrahim as, siti hajar
nabi ismail as, dan nabi muhammad saw.
insya allah semua doa yang dititipkan
dikabulkan allah swt, amin ya rabbal allamin.
dan, hanya allah swt semata yang akan membalas
semua doa yang dilantunkan sobat-sobat semua.
terima kasih...