pilih bayar atau gratisan...

2 komentar
ah, sok lu. ada yang gratis malah cari yang bayar. sok kaya lu... dan, masih banyak lagi perkataan sejenis yang akan diberikan kepada kita manakala kita memilih membayar sesuatu padahal ada yang gratis. kita juga akan berlomba-lomba mengambil sebanyak-banyaknya apapun yang berlabel tidak bayar. padahal belum tentu kita perlukan (semuanya). cerita berikut yang dikutip dari sini barangkali, akan membuka (sedikit) mata kita bahwa kalau kita masih mampu (untuk membeli atau membayar) janganlah (terus-terusan) berusaha mendapatkan yang gratis. karena yang gratis itu ternyata sudah ada yang punya. dan, jangan pula kita mencari-cari alasan untuk memanfaatkan ke-gratis-an atau mengambil selisih harga untuk kaum subsidi... 

Kalau Bisa Bayar, Kenapa Ambil yang Gratis!?

Sebagai salah satu dari 240 juta orang Indonesia, maka cara berpikir saya ,tentunya tidak mungkin bisa terlepas dari pola pikir gaya Indonesia. Salah satunya adalah: ” Kalau bisa gratis, kenapa harus beli?”

Nah, saya dapat pelajaran baru disini, yang membuat saya tercenung dan merenung diri.

Sore Hari Roti Gratis
Awalnya dulu, saya tidak percaya, ketika ada teman dari Indonesia yang sudah lebih lama tinggal disini. Katanya, bahwa toko roti disini, tidak menjual roti yang sudah bermalam. Makanya kalau sudah sore, roti bisa diperoleh secara gratis. Tapi saya sama sekali tidak melihat ada yang antri untuk dapatkan roti gratis Padahal saya pernah saksikan di salah satu mall di Indonesia, pada jam 7 malam ada antrean yang panjaaang, karena roti dijual setengah harga. Nah, apalagi kalau dikasih gratis.

Pengalaman Dapat Roti Gratis
Suatu sore, sesudah menikmati secangkir capuciino di Gloria Jean, café yang capucinno-nya paling enak (menurut saya), kami mampir ke toko roti. Membeli sebatang roti kismis dan minta kepada si mbak penjaga toko roti, untuk dipotongkan ,sehingga nanti dirumah gampang, tinggal comot dan makan.

Selesai dipotong dan dibungkus rapi, lalu diserahkan kepada saya. Langsung saya berikan uang lembaran 10 dollar. Tapi ditolak dengan senyum manis,sambal berucap, ”It's free .nothing to pay.” “Are you sure?” kata saya, Maka gadis remaja yang tugas jualan disana, menjelaskan, bahwa kalau sudah ditutup, roti tidak boleh lagi dijual. Boleh diberikan kepada siapa yang mau atau diantarkan ke Second Hand shop untuk orang yang membutuhkan.

Agak tercengang juga saya dengar penjelasannya. Terbayang, kalau di Indonesia, wah bisa bangkrut ini, karena orang bakalan menunggu toko tutup supaya dapat yang gratis.

Ada Pembeli Lain
Belum selesai ngobrol dengan si mbak. tiba tiba ada suami istri, yang juga mau belanja roti. Rupanya mereka tanpa saya sadari sudah mendengar percakapan kami. Kelihatan si Pria adalah orang Australia,sedangkan istrinya adalah tipe orang Asia. Si wanita juga minta roti di mbak ,tapi di cegah oleh suaminya, sambal berkata ”No darling, please We have enough money to buy. Why do we have to pick up a free one? Let’s another people who need it more than us. take it."

Wah... wah, merasa tersindir wajah saya panas… Egoisme saya melonjak kepermukaan. Dalam hati saya bergumam,” Hmm saya ini dulu pengusaha tau” tapi, syukur cepat sadar diri, nggak sampai terucapkan. Karena orang bicara suami istri, masa iya saya nyelak ditengah tengah?’ Hampir saja saya berbuat kesalahan. Karena toh mereka tidak omongin saya… Kalau saya merasa tersindir, itu salah saya sendiri.

Renungan diri
Hingga menjelang tidur. kata kata si Suami kepada istrinya. masih tergiang ngiang rasanya, "We have enough money to buy... why do we have to pick up a free one," setelah saya renungkan, saya merasakan bahwa kata kata ini benar. Kalau semua orang yang punyai duit,ikut antri dan dapatkan roti gratis, yang biasanya diantarkan ke Second Hand Shop untuk dibagi bagikan gratis, berarti orang yang sungguh sungguh membutuhkan, tidak bakalan kebagian lagi roti gratis.

Walaupun saya sesungguhnya mau membayar, namun si mbak yang nggak mau terima uang saya. pelajaran hidup ini tidak mungkin akan saya lupakan. Kalau kita sanggup beli. jangan ambil yang gratis. Biarlah orang lain yang lebih membutuhkan mendapatkannya. Sungguh sebuah kepedulian akan sesama , yang diterapkan dengan sungguh sungguh hati .Kini saya baru tahu, kenapa kalau di club ada kopi gratis, tapi jarang ada yang ambil, Mereka lebih suka membeli. bukan karena gengsi gengsian,tetapi terlebih karena rasa peduli mereka pada orang lain, yang mungkin lebih membutuhkan.

Pelajaran yang sungguh sungguh memberikan inspirasi bagi diri saya.

Mount Saint Thomas, 01 November, 2014

pahlawan rasa ska...

0 komentar
ngomong-ngomong soal pahlawan, seturut ini,
pahlawan /pah·la·wan/ n orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani;
nah, sehubungan dengan masih dalam suasana hari pahlawan (meski sudah lewat satu hari),  mari kita dengarkan salah satu lagu ciptaan ismail marzuki yang sudah tidak asing lagi yaitu payung fantasi. termasuk lagu perjuangan atau tidak ya? tidak menjadi masalah besar kan. tapi yang pasti, lagu ini bertautan juga dengan hujan yang mulai turun membasahi bumi.


namun demikian, janganlah kaget atau bingung, karena lagu ini dimainkan oleh sentimental moods dalam irama ska. kenapa harus ska? kenapa tidak? :D band ini memang beraliran ska karenanya musik yang dimainkan ya bukan klasik.

sebagai band indie lokal, sentimental moods, boleh jadi, termasuk grup berusia muda. tapi para personelnya bukanlah orang baru di dunia per-band-an.  

pengalaman manggung juga tidaklah sedikit. di panggung bergengsi tahun 2013. tahun ini unjuk kebolehan di Sentimental Moods at Java Jazz Festival 2014. serta berbagai perhelatan lain.


tepat di hari pahlawan 10 november 2014 grup ini mengeluarkan album 'november sepuluh' tribut komposer dan pahlawan indonesia. ada empat lagu dalam album yang dapat diunduh secara gratis ini. Di Timur Matahari, ciptaan WR. Soepratman, Jembatan Merah featuring Aprilia Apsari, ciptaan Gesang, Sepasang Mata Bola, ciptaan Ismail Marzuki, dan Jembatan Merah (instrumental). 

khusus lagu 'jembatan merah' versi vokal, barangkali suaranya sudah tidak asing lagi di gendang telinga. ya, betul, aprilia apsari adalah vokalis 'white shoes & the couples company'. yaitu Aprilia Apsari.

udah ah, kebanyakan cerita malah tidak jadi mendengarkan lagu-lagunya. ini tautan untuk mengunduh album 'november sepuluh' dan cerita lengkap mengenai grup ska ini. (hak cipta ilustrasi sepenuhnya ada pada sentimental moods.

membendung uang...

1 komentar
kalau ada tanya: cukup gak gajinya. bolehlah dibilang mayoritas jawaban adalah 'tidak cukup'. sepertinya kita memang mempunyai kecenderungan untuk tidak cukup dengan apa yang kita miliki :D salah satu cara menutup kekurangan itu adalah dengan berhutang. tapi bukannya tanpa risiko. berhutang sama saja dengan 'gali lubang, tutup lubang'. pendapatan kita pasti berkurang terus karena harus menutup hutang. dan, tak harus terus-terusan berkutat dengan kekurangan kan. 

bagaimana caranya agar tidak selalu kekurangan bahkan malahan berlebih? banyak cara dapat dilakukan. yang pasti haruslah berhemat. tidak membeli sesuatu yang dapat ditunda hingga benar-benar dibutuhkan. cerita berikut yang dikutip dari sini dapat dijadikan bahan renungan...

Deni adalah seorang copywriter di sebuah biro iklan lokal. Teman- temannya mengatakan bahwa Deni sedang kesulitan keuangan. Kok tahu? Ya taulah. Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia hampir selalu meminjam uang.

Memang, setelah gajian utangnya pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik taxi ke kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan. Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari office boy?
Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya, sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya berbincang-bincang.

Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni? Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy tersebut. “Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji saya selalu habis setelah tengah bulan.” Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. “Saya dulu juga begitu, mas. Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam di bulan sebelumnya.

Jadi uang gaji saya berkurang. Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup, apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak”

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. “Jadi bagaimana caranya melepaskan diri dari lilitan utang?” tanya Deni.

“Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi wejangan oleh beliau.

Nenek saya berkata: “Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak.”

Kunci Hidup Prihatin.
Waktu itu saya bertanya: “Bagaimana cara membendungnya? ” Nenek saya menjawab tegas:”Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi.”

“Tapi nanti kurang nek.”

“Tidak”, kata nenek. “Begini caranya. Begitu terima gaji, segera lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup.” Lalu saya diajak menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih.”

“Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu. Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. Sampai sekarang.”

Deni bertanya:”Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab.”

“Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir empat puluh juta rupiah. Saya ingin menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas.”

Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik taxi. Makan siang selalu di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah. Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya. Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!
awalnya, sudah pasti tidaklah mudah. mengubah kebiasaan yang sudah beruratberakar memang tidak gampang. tapi, bukannya tidak bisa. masalahnya kita mau atau tidak...

roker juga manusia...

0 komentar
naik kereta api... tut... tut... tut... siapa hendak turut... 

silakan diteruskan, bagi yang berminat bernyanyi :D moda tranportasi umum yang satu ini sejatinya tidaklah asing lagi bagi saia. saat merampungkan kuliah di depok, krl kereta rel listrik, sebutannya waktu dulu adalah kendaraan yang paling nyaman. berangkat dari stasiun beos atau jakarta, saia pasti mendapatkan tempat duduk. bahkan saat itu ada kereta khusus mahasiswa krd alias kereta rel diesel. tak banyak memang rangkaiannya, kalau tak salah, hanya empat saja. tapi sepertinya sudah mencukupi dan yang pasti isinya melulu mahasiswa dan mahasiswi.

sebelum mendapatkan sebutan commuter line (seperti sekarang) transportasi sejuta umat ini biasa disebut krl. jaman krl ini jakarta-bogor benar-benar murah meriah. (kalau pengin yang nyaman disediakan kereta express namun hanya berhenti di setasiun tertentu, harga karcis jauh lebih mahal dan jadualnya pun terbatas.). di setiap setasiun berhenti. semua bisa dan boleh dibawa masuk ke dalam kereta. mau bawa sepeda, tidak jadi masalah. barang dagangan juga oke-oke saja. pedagang segala jenis mata dagangan, juga bisa berkeliling dari kereta paling depan hingga ke ujung di belakang. ditambah lagi dengan para pengamen baik yang bersuara emas maupun pas-pas-an.  

hiruk-pikuk pengamen dan penjual berpadu dengan pengapnya udara di dalam kereta. tak ada penyejuk udara? tak ada! yang ada adalah kipas angin yang kadang berputar, kadang matot alias mati total. tak perlulah anda bayangkan nikmatnya :D dalam suasana seperti ini, ada 'kelompok-kelompok' tertentu yang 'menguasai' ruangan dalam kereta. ada kelompok arisan. ada juga kelompok permainan kartu. tak ada yang berani menegur atau mengganggu penguasa ini. lokasi mereka juga strategis: dekat pintu. dan, agar tak kepanasan pintu otomatis itu diganjal supaya angin leluasa masuk.

suasana setasiun pun tak kalah meriahnya. bangku-bangku yang sebenarnya untuk para penumpang, diambilalih para pedagang. jadi, kalau kita duduk seakan-akan kita berniat makan atau minum di situ. bukan hanya tukang makanan yang ada di situ. kasbek alias kaset bekas, koran, majalah, alat pertukangan dan aneka lainnya. menunggu kereta datang kita dihibur dengan lagu-lagu sesuai keinginan penjualnya. penertiban bukannya tidak dilakukan tapi 'hangat-hangat tahi ayam'. selang beberapa saat, mereka kembali berjualan lagi.

itu adalah cerita dulu. sekarang banyak yang berbeda. setasiun bersih dari pedagang. bersih. nyaman untuk menunggu kereta datang. hanya mereka yang mempunya tiket yang dapat masuk ke peron. tak ada urusan tak perlu masuk :D keretanyapun bagus-bagus dengan penyejuk udara. tak ada lagi penumpang 'the atapers' yang hobi nangkring di atap kereta. pengamen atau pedagang di dalam kereta tak ada juga. isinya kereta melulu penumpang. bahkan disediakan kereta khusus wanita, namun terbatas jumlahnya.

sebenarnya, meski penuh sesak naik commline masih lebih enak daripada naik kendaraan umum yang lain. dari segi waktu lebih cepat. tak akan dihadang kemacetan. kita pun tak perlu takut jatuh ketika kereta begerak, karena saking penuhnya penumpang depan-belakang-kiri-kanan siap menjaga kita alia menjepit :D karcisnya pun relatif murah. penumpangnya juga wangi-wangi uhuy. saia pun kagum dengan para penumpang yang di tengah kepungan ini masih sempat-sempatnya main game di gawainya, membaca koran atau majalah, yanga asyik menggoyang-goyangkan kepala dengan pelantang telinga. karena roker alias rombongan kereta ini adalah manusia juga...

anakmu bukan anak tetangga...

0 komentar

anakmu-bukan anakmu... lah, emangnya anak tetangga...
saia selalu heran melihat anak dibonceng di tengah2 antara pembonceng bapak (pengemudi) dan yang dibonceng (ibu) seperti ini. entah siapa yang mau, apakah si anak ataukah ortunya. selambat apapun laju motornya, bila direm mendadak bisa saja terjadi hal-hal yang tak diinginkan. menyenangkan hati sang anak atau apakah ini namanya. tapi, apalah saia kan tidak berhak melarang mereka. bisa-bisa nanti dianggap melanggar h.a.m....

 
Copyright 2009 ceritanya danu...
BloggerTheme by BloggerThemes | Design by 9thsphere