hubungan ranking dan steak...

7:25 PM

dulu keponakan saya, saat ia masih di sekolah dasar, pernah bercerita dengan bangga bahwa ia mendapat ranking atau kedudukan nomor 28. ya betul nomor 28 dari 28 orang siswa-siswi di kelasnya. kami yang mendengar tentu saja tergelak-gelak. begitu pentingkah ranking? buat saya pribadi tidak. untuk ibunya nanda juga sama.

sabtu kemarin, nanda mendapat 'rapor bayangan'. ia yang selama ini tidak mengenal sistem ranking tidak peduli dengan rapornya. ia pun tak sadar ketika seorang temannya, perempuan, menanyakan nilainya. dengan lugunya, nanda bertanya kepada ibunya nilai yang ada di rapor. ketika ia kembali ke temannya dan memberitahukan nilai itu barulah ia sadar saat temannya mengekspresikan kegembiraan dengan berteriak yes karena nilainya lebih tinggi dari nilai nanda. sampai di rumah barulah nanda bertanya: aku ranking berapa bu?

saya yang mendengar tanya nanda, hanya tersenyum-senyum. dalam hati: penting amat sih ranking. lalu ibunya menjelaskan bahwa ia termasuk ranking. sebagai siswa yang baru masuk di kelas enam, prestasi nanda cukup menggembirakan. tapi, bukanlah itu tujuan kami menyekolahkan dia di sd negeri. nilai setinggi apapun bisa saja dikejar. tapi apalah gunanya itu semua kalau ia hanya menghafal (hasil akhir) tanpa mengerti (bagaimana hasil akhir didapat). lebih baik ia mendapat nilai tidak tinggi tapi murni hasil kerjanya tinimbang nilai tinggi tapi hasil kerjasama alias contekan.

waktu terus berjalan. sabtu semakin tua. nanda mengajak ke margonda menagih janji. tapi saya memintanya besok saja. alhamdulillah nanda bersedia mengikuti keinginan ortunya. ahad pagi kami memutuskan untuk sampai di tempat tujuan saatnya makan siang. sudah diputuskan berangkat setengah sebelas tapi nanda masih meminta waktu untuk menyelesaikan menonton tivi. ya, sudahlah, kami mengalah.

saat berjalan menuju depan kompleks, permintaan nanda bertambah: kita ke gramed dulu kan yah? antara tanya dan setengah memaksa. saya belum mengiyakan atau menggelengkan kepala. baru saat di margonda saya memutuskan menerima tambahannya. alhamdulillah, ada untungnya ke gramed dulu. kalau langsung ke tujuan, bisa-bisa kami cuma bengong karena tempat itu baru buka jam 12.00 wib.

waroeng steak & shake, ke sinilah tujuan kami. bagi nanda dan ibunya, ini memang bukan kunjungan pertama. (wah, sering yah? tentu tidak. ini kunjungan ke dua :d). sementara saya selama ini hanya melewatinya saat pulang dan pergi ke kantor. bagi penikmat steak sejati, boleh jadi, ini hanya 'steak-steak-an'. jangan, jangan dibandingkan dengan steak hotel bintang lima atau rumah steak lainnya.

ini adalah steak yang benar-benar sudah disesuaikan dengan lidah melayu. kalau anda ingin memakan steak setengah matang di situ, yang kalau diiris masih merah dagingnya, sebaiknya urungkan niat anda. di sini, kalau porsinya terasa tidak nendang kita bisa memesan nasi. steak-nya pun ada ayam dan ikan bahkan cumi. juga ada yang berbalutkan tepung. bahkan spaghetti ada disini. komplet ya.

soal harga, relatif terjangkau. kalau porsi makan anda normal anda tidak akan merasa tarifnya mencekik leher. kalau pengin iseng dan menghemat habis-habis-an pesan saja kuah steak dan nasi putih. dan, bagi kami bukan mahal-murahnya tarif yang jadi tujuan utama. ini juga bukan hadiah bagi nanda yang dapat ranking.

dapat pergi bersama-sama dengan suasana yang menyenangkan dari awal hingga sampai kembali ke rumah, inilah yang kami inginkan. begitu pula dengan anda kan? (tautan cerita steak ada di sini).

You Might Also Like

5 komentar

populer...