Friday, September 29, 2006

halal versus haram...

kata sebuah ungkapan 'rumput di rumah tetangga lebih hijau'. mengapa lebih hijau? karena si tetangga rajin menyiangi rumput-rumput liar dan merawatnya dengan baik sehingga enak dipandang. cerita di bawah ini barangkali tidak begitu pas dengan 'rumput tetangga'. nampaknya ia ingin mengajarkan kita untuk memanfaatkan yang ada atau yang kita miliki. tinimbang bersusah-payah mencari sesuatu yang belum jelas juntrungannya.
Setelah melewati 3 bukit dan ngarai, sang petani tiba di rumah kyai. Kyai menanyakan maksud kedatangannya.

Petani (P): Saya ingin bertanya, apakah kepiting sawah itu halal atau haram?

Kyai (K): Sebelum menjawab pertanyaan kamu saya ingin dulu bertanya, apakah kamu punya sawah?

P: Punya, Kyai

K: Apakah di sawah yang kamu sedang tanami itu kamu bisa memancing belut?

P: Iya, kyai, bisa

K: Apakah kamu punya empang?

P: Punya, Kyai

K: Apakah di empangmu dipelihara aneka ragam ikan, sperti mujair, tawes, mas, nila, gurame?

P : Iya , Kyai

K: Apakah kamu juga beternak ayam atau bebek seperti petani di sini?
P: Iya, Kyai

K: Nah , kalau begitu, makan dulu saja itu semua, janganlah dulu kamu persoalkan kepiting sawah. ayam, itik, ikan itupun mungkin tak habis kamu makan, jangan kau susahkan hidupmu dengan persoalan kepiting sawah.
masih mau kepiting?

Thursday, September 28, 2006

maaf pintu ditutup...


...mohon maaf selama bulan puasa untuk menghindari tawuranpintu ditutup sementaramulai pukul 19.00 s/d selesai...
ini adalah pintu jalan tembus dari perumahan saya menuju jalan raya. lumayan menghemat tenaga bila melalui pintu ini. apalagi di bulan puasa seperti sekarang ini. tapi, demi menghindari tawuran antara 'anak kampung' versus 'anak kompleks' (dengan terpaksa) pak rt memasang pengumuman itu.

saya sendiri belum pernah melihat 'tawuran yang harus dihindari' itu. karena saat saya sampai di rumah sholat tarawih sudah usai. sementara umumnya anak-anak sebelum sholat, yang hanya ada di bulan ramadhan itu selesai, sudah membubarkan diri terlebih dahulu. paling saya melihat sisa kerumunan anak-anak seumuran sd yang sedang bercanda dengan temannya.

kalau melihat mereka bercanda, memang rada miris dibuatnya. kain sarung yang lebar itu dipilin-pilin menjadi bagaikan selembar ikat pinggang. lalu diputar-putar bagaikan tali laso para cowboy yang ingin menjerat kuda liar. kalau cuma diputar-putar tak apa-apalah. yang mengerikan kain sarung itu mulai dilecut-lecutkan ke arah temannya. kena di badan atau tangan dijamin merah. nah, kalau kena biji mata, naudzubilah, apa jadinya?

ayolah adik-adik, daripada lecut-melecut yang bisa bikin cedera mengapa tidak pulang saja ke rumah. numpang tanya: para ortu mereka tahu tidak ya? jangan-jangan ortunya asyik khusyuk tarawih sementara sang anak malah asyik bermain yang mengarah ke tawuran.

Wednesday, September 27, 2006

ada yang gratisan...

bulan ramadhan sudah memasuki hari yang ke empat. badan atau fisik pun (mestinya) sudah semakin 'menyatu' dengan suasana yang baru. hanya saja bagi saya pribadi yang susah ditahan adalah kantuknya. kalau lapar dan dahaga 'kan memang sudah 'aturannya' harus ditahan.

apa yang tidak berbeda dari tahun ke tahun mengenai ramadhan adalah ia dimulai saat subuh dan berakhir saat matahari tergelincir atau magrib. hukumnya adalah wajib bagi yang sudah baliq... dan seterusnya dan sebagainya :d. tahun ini saya melihat begitu banyak kain rentang ucapan selamat menunaikan ibadah ramadhan. yang paling banyak dari partai-partai politik. (barangkali sudah mendekati pemilu 2009 ya? jadi partai-partai itu memperkenalkan dirinya. :d)

diantara berbagai kain rentang yang dipasang, ada satu yang menarik perhatian saya. karena ia berbeda dengan yang lain. ia mengingatkan untuk beritikaf di sepuluh hari terakhir puasa ramadhan. oh, ya, kain rentang ini dipasang di depan sebuah spbu atau pom bensin di daerah pancoran, jakarta selatan. menariknya adalah dengan beritikaf di masjid kompleks triloka itu anda berkesempatan menunaikan ibadah umroh 1428 h gratis!

apa dan bagaimana caranya hingga bisa umroh gratis adalah urusan dkm masjid yang bersangkutan. yang jadi pertanyaan adalah untuk apa kita beritikaf? setiap orang tentu mempunyai jawaban masing-masing. dan, ini adalah ibadah yang mengharap ridho allah semata. jadi, perlukah ia diiming-imingi umroh gratis?

jangan sampai dan mudah-mudahan tidak ada jamaah yang berlomba-lomba beritikaf di situ hanya karena ada yang gratisan. wallahu alam bi'shawab.

Tuesday, September 26, 2006

bang ini sms siapa...

Bang SMS siapa ini bang
Bang pesannya pake sayang sayang
Bang nampaknya dari pacar abang
Bang hati ini mulai tak tenang
sangat boleh jadi anda sudah bosan mendengar lagu yang liriknya saya unduh dari sini. tapi bosan tak bosan, suka tak suka, ia toh membelai-belai gendang telinga. yang menjadikannya ring tone buat sms atau nada panggil juga banyak. tapi tahukah anda bahwa jawaban lagu techno-dut itu sudah ada. coba saja iseng-iseng sambil menunggu beduk magrib, klik ini. bisa juga mengunduh mp3-nya loh :).

ngomong-ngomong soal sms, bagi mereka yang tergolong 'sms-mania' setiap hari pasti ada sms yang masuk atau keluar dan pasti hafal dengan aneka singkatan. tadi pagi sedang saya terkantuk-kantuk di angkot, hape bergetar mengisyaratkan sms yang masuk. dalam hati: siapa sih pagi-pagi rajin meng-sms. takut kalau itu berita penting, telepon pun diangkat.

ternyata seorang kawan lama mengirimkan tausiyah...
SPBU (Saat Puasa BUat) jadi BBM (Bulan Barokah & maghfirah) dg meningkatkan PREMIUM (PREi Makan dan mInUM) ditambah dg SOLAR (SOlat Lebih Rajin) pake MINYAK TANAH (Meningkatkan Iman baNYAK TAhaN AmaraH) serta PERTAMAx (PERangi TAbiat MAXiat) utk LPG (bekaL Penghuni surGa).
senyum-senyum saya membacanya. soalnya teman saya yang satu ini, seingat saya, belum pindah kerja ke pertamina. :d meski singkatannya terasa memaksa saya menghargai kreatifitas dia. terkadang malahan ungkapan-ungkapan yang bernada bercanda seperti ini malah lebih cepat 'menancap' di benak.

mari kita SOLAR pake MINYAK TANAH.

Monday, September 25, 2006

tidak dilarang bawa hape...

berkantor dekat masjid memang menyenangkan. apalagi jaraknya hanya sepelemparan batu. pak ali, sang marbot, sudah sangat familier suaranya bagi teman-teman se kantor. kalau adzannya berbeda, secara tak langsung kami jadi saling tebak-tebakan: "ini pasti bukan pak ali yang adzan." tebakan kami pasti benar adanya. karena setiap muazin 'kan punya gaya tersendiri.

kalau hari-hari biasa yang bersholat di masjid ini paling sepuluhan orang. kebanyakan jamaahnya berasal dari kantor-kantor yang berada di seputaran masjid ini. adakah jamaah wanita yang bersholat di sini? tentu saja ada meski hanya sedikit. dan, tak perlu takut kalau tak membawa mukena karena pak marbot menyediakannya.

ashar tadi, cukup banyak jamaah yang bersholat. dalam taksiran saya ada sekitar duapuluhlimaan orang. (mudah saja menerkanya karena ada dua shaf jamaah). di tengah-tengah rakaat ke-tiga, tiba-tiba berkumandanglah lagu sebuah film animasi yang populer dari sebuah handpohne. makin lama suaranya makin mengeras.

alhamdulillah si hape berhenti. tapi selesai salam ke kanan dan ke kiri, ia berbunyi lagi. sang pemilik yang sedang berdoa dalam barisan paling depan mau tak mau keluar dari shaf. seorang jamaah lain sempat(sempatnya) berkata (dengan nada kesal): 'ibadah kok' (barangkali maksudnya: sholat kok bawa-bawa henpon sih).

tak ada larangan membawa hape (atau yang lainnya) ke dalam masjid. tapi jelas ada pengumuman yang ditempel: harap matikan hp demi kekhusyukan sholat. si bapak pemilik telgam barangkali lupa mematikan hapenya saat hendak sholat. atau ia takut ketinggalan berita penting yang sedang ditunggu-tunggunya. tapi, tak perlu mengganggu orang lain kan ya.

Friday, September 22, 2006

taksi versus nasi goreng...

©dibuangsayang-nasgorhampir di bagian manapun di jakarta kita dapat menemukan penjual nasi goreng. salah satunya ada di pasar minggu di seberang stasiun ka. nas-gor yang saya langgani sejak membujang ini sudah lebih dari tiga kali berpindah-pindah tempat. tapi tetap di seputaran stasiun. ciri khas yang membedakan dengan nas-gor lain adalah lampu neon hijau. dan, satu lagi yang oke adalah 'nas-gor peteuy'nya. hanya saja akhir-akhir buah beraroma khas itu jarang ada: "harganya udah mahal sih," ujar si mas.

kemarin malam sepulang dari kantor, sambil menunggu kemacetan agak reda, saya mampir makan malam. kebetulan malam itu sepi pembeli. pesananpun cepat jadi. sedang saya makan datang seorang supir taksi. saat makan kami diam-diam-an saja. asyik dengan nas-gor masing-masing. ketika si bapak selesai, saya masih menghabiskan suapan-suapan terakhir.

tahu-tahu si bapak membuka percakapan dengan logat betawi: "dari pagi narik setengah target blom dapet saya." (target adalah sejumlah uang yang harus disetorkan yang dari jumlahnya pengemudi akan mendapatkan persentase penghasilan). "blom sampe tiga ratus ya pak? tegas saya. (target yang harus dipenuhi hampir enamratusribu rupiah). "iya pak," katanya. padahal jarum jam sudah mengarah ke pukul sembilan. tak banyak lagi waktu yang tersisa baginya. "narik sekarang susah pak. banyakan mobilnya ama penumpang." dan, setelah bercerita si bapak pamit.

seperginya si bapak. saya ngobrol dengan pak de nas-gor. "sampeyan sudah dapat berapa?" tanya saya. "sudah belanja segala ya duaratusan sih ada," katanya. dalam waktu sekitar tiga jam-an (biasanya lepas magrib ia baru siap berjualan), pak de sudah dapat uang sebanyak itu, sementara si bapak taksi keluar dari pool-nya paling tidak lepas subuh. artinya dia sudah di jalan tidak kurang dari 15 jam.

kalau dipikir selintas, lebih enak jadi tukang nas-gor daripada keliling kota kayak pak supir ya. benarkah demikian? selintasan memang demikian. "dagang sekarang nggak kayak dulu," katanya. "banyakan sepinya daripada ramenya," sambungnya lagi. kadang saat saya melintas diatas pukul duapuluhtiga, lampu hijau pak de masih menyala terang. jadi enak yang manakah?

Thursday, September 21, 2006

mohon maaf yak...

kemarin petang saat saya berjamaah magrib, tak seperti biasanya jamaah yang bersholat sampai dua baris. sekitar tigapuluhan orang. ini termasuk banyak karena umumnya paling sepuluhan. lagipula masjid tempat saya jumatan ini walau berada dekat perumahan kebanyakan dikunjungi pekerja kantoran yang berlokasi di seputar masjid. lalu apa pasal yang membuatnya kemarin lumayan penuh itu?

seorang teman nyeletuk (dengan aksen medoknya): 'lho, sampeyan ini bagaimana sih. hari minggu besok kan sudah mulai puasa. ya, wajar toh kalau pada magriban di masjid.' celetukannya membuat saya tersenyum. dan, dalam hati berkata: masa iya sih cuma mau puasa ramadhan masjid jadi penuh. ya, sudahlah sebaiknya kita bersangka baik saja. tambahan lagi, buat saya pribadi, kalau sudah menyentuh soal ibadah ini adalah masalah pribadi masing-masing. saya tak berhak mencampurinya.

nah, saudara-saudariku sekalian, mumpung masih sempat posting, mumpung masih sempat on-line, mumpung aji mumpung, mumpung shaum ramadhan belum dimulai, bolehlah saya mengutip kembali pantun yang disampaikan kepada saya:
Sungguh cantik kain plekat, dipakai orang pergi ke pekan
Puasa Ramadhan semakin dekat, silap dan salah mohon dimaafkan

Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,
harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang posting-an ini

Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang,
nanda, bundanya dan saya mohon maaf lahir dan bathin
marilah menyambut ramadhan dengan gembira seperti dituliskan nanda pada poster buatannya. semoga amal ibadah kita di bulan puasa tahun ini insya allah diterima allah swt. dan, insya allah tahun muka kita dipertemukan kembali dengan ramadhan. amin.

Wednesday, September 20, 2006

hari ini ulang tahun siapa...

happy birthday to you
happy birthday to you...
anda pasti mengenal dan pernah menyanyikan bait lagu di atas – awalnya merupakan melodi lagu 'good morning to all' yang diakui patty smith hill sebagai lagu ciptaannya – namun di tahun 2005 warner-chapel mengakui itu adalah lagu mereka. jadi siapakah sebenarnya pemilik lagu itu? kenapa sih mesti diperdebatkan? 'lho, ini kan soal hak cipta yang berhubungan dengan royalti dan royalti kan uud alias ujung-ujungnya duit,' kata teman saya (mungkin juga yak :d)

baiklah kita lupakan soal 'uud'. saya mau bertanya siapakah yang berulang tahun hari ini? pasti ada. pertanyaan kedua: sudahkah yang berultah itu diberi ucapan selamat? kalau belum bersegeralah. banyak media yang bisa digunakan: surat (sudah tidak uzum kali yak), telegram, telgam alias telepon genggam, sms, e-card, e-mail atau ya temui langsung yang bersangkutan. dan, kalau mau sedikit beda boleh mengutip ucapan ultah dalam 161 bahasa.

seberapa penting ultah bagi anda? barangkali anda yang menganggapnya sebagai hari biasa saja. ada yang harus merayakannya secara istimewa. ada juga (lho) yang mengharamkan diberi ucapan selamat ulang tahun. manapun yang anda pilih itu adalah keyakinan anda sepenuhnya. dan, tentu saja, saya menghormati keyakinan itu.

nah, teman-teman blogger sekalian, bagaimana cara pandang pasangan anda, apakah istri atau pacar atau teman atau yang lainya, terhadap ha-u-te, anda harus mengetahui dengan jelas dan pasti. jangan sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

bagi yang menganggapnya 'luar biasa' kalau sampai lupa pada hari itu bisa jadi 'malapetaka'. seperti cerita seorang teman yang 'diperenguti' istrinya gara-gara sang suami lupa ultah istrinya. 'boleh ya si istri begitu?' tanya saya. 'ya boleh dong. masak sama 'jarig' istrinya saja lupa.' jawab teman lain. 'kalo lupa itu bearti juga tidak perhatian sama istri,' tambah teman itu. 'oh, gitu ya,' timpal saya.

lain cerita, pernah ada seorang teman yang terbirit-birit pulang ke rumah karena lupa ulang tahun istrinya. untung saja, sang teman posisinya sudah tinggi sehingga bisa pulang tanpa harus melewati segala macam birokrasi. coba kalau yang lupa adalah setingkat office boy apa iya dia bisa minta ijin dengan mudah? apa bukannya ia malah di-ceng-in: halah opis boi aja kok yang ngerayain ulang tahun.

lho, apa salahnya? opas kan juga manusia.

Tuesday, September 19, 2006

sekilas memang sama...

sekilas ia nampak sama. hampir tak berbeda. tapi kalau diperhatikan baik-baik akan terlihat perbedaannya. awalnya saya juga menyangka kasut yang dipakai pemuda itu buatan adidas. setelah melihat, melihat dan melihat lagi, sambil memastikan bahwa mata saya yang meski berkacamata, tidak salah lihat barulah saya percaya itu memang bukan '3-stripes'. kalau dibaca mereknya, bunyinya juga mirip: adiolas. (tulisan di sini juga mirip kan: adidas-adiolas :d). selop seperti ini jelas tidak akan anda temukan di plasenta, eh, plaza senayan atau pondok indah mall (yang letaknya di kebayoran jakarta tapi petunjuk-petunjuk di dalam ruangannya adalah english). mungkin ia ada di pasar-pasar pinggiran kota. sang pembeli pun mungkin tidak 'ngeh' kalau sandalnya mengadopsi merek terkenal. (dan, apa pula pedulinya dia, barangkali). kreatifitas, seperti ini sangat boleh jadi, hanya dimiliki oleh orang-orang pintar.

kreatif?

Monday, September 18, 2006

sekali klik dapat dua...

gahooyooglebanyak mesin pencari di internet yang bisa kita pergunakan untuk mencari apapun. tapi pastinya terpulang kepada kebiasaan masing-masing. ada yang senangnya memakai google ada juga yang lebih afdhal menggunakan yahoo. ini hanya dua mesin yang sering dipakai dan sebenarnya masih banyak lagi mesin pencari. tadi selagi blogwalking di gecko & fly saya ketemu mesin pencari kembar: gahooyoogle. entah buatan siapa tapi setelah mencoba ternyata benar adanya. artinya saat kita masukan entry yang akan kita cari maka layar akan terbagi dua menjadi yahoo dan google. silakan mencoba. [disclaimer: kalau ada apa-apa tanggung jawab sendiri :d biasanya kalau dikasih disclaimer gini pada takut mencoba yak].

Friday, September 15, 2006

solidaritas apa solidaritas...

ingin memiliki sepedamotor, tapi uangnya tak mencukupi? tak perlu khawatir. kini dengan berbagai kemudahan yang diberikan (atau di-iming-iming-i?) kita dapat demikian mudahnya menaiki sepeda motor. kita pun diberikan kebebasan untuk memilih merek yang disukai. makanya tak perlu heran kalau kini separuh jalan (?) isinya adalah sepeda motor dan sepeda motor (tentunya campur antara pembeli tunai dan kredit).

dampak dari banyaknya sepeda motor dapat bermacam-macam. semakin banyak pedagang baru yang berjualan aksesoris sepeda motor seperti helm, jaket, sarung tangan dan lain sebagainya. juga membuka lapangan kerja baru dengan spesialisai montir atau mekanik. dan, masih banyak lagi disamping kemacetan yang ditimbulkan akibat berkendara seenak hati :d.

para pengguna sepeda motor juga membentuk klub-klub yang (barangkali) didukung oleh para atpm alias agen tunggal pemilik merek seperti suzuki, honda, dan yamaha. sebagai wadah bersatunya para 'biker' klub-klub ini kegiatannya (sepanjang sepengetahuan saya sih) umumnya positif. kalaupun ada yang 'nakal' ini kan namanya oknum ya. dan, solidaritas mereka umumnya tinggi.

solidaritas atau rasa senasib tentu saja bagus dan harus dipelihara agar tak mati. tapi kalau mendengar cerita seperti ini kok rasanya 'gimana gitu loh'... kejadiannya adalah seperti ini... lokasinya di dekat terminal pasar minggu. saat itu hujan rintik yang cukup membuat jalan menjadi licin.

dalam keadaan jalan yang agak macet. entah karena apa penyebabnya, tiba-tiba saja sebuah motor terjatuh. sementara di belakangnya ada sebuah metro mini. angkutan umum yang terkenal 'semau gue' ini berhenti di belakang motor yang terjatuh. dan, seperti biasa bila ada motor yang terjatuh tanpa diminta siapapun pengendara motor lain otomatis berhenti dan melihat. entah sekadar melihat atau barangkali ingin menolong.

namun diantara kerumunan itu, tanpa mengerti keaadaan yang sebenarnya tiba-tiba saja ada suara: 'bakar aja, bakar aja'. maksudnya bakar aja tuh metro mini. duh, gusti, kok bisa-bisanya muncul 'provokator'. alhamdulillah, akal sehat masih berjalan mulus. kebakaran pun dapat dihindari.

kalau yang seperti itu namanya solidaritas jugakah?

Thursday, September 14, 2006

install ulang saja pak...

ada teman yang bercerita (sambil mengeluh) bahwa hape-nya meski dalam keadaan silent tapi waktu dipakai memotret tetap bunyi ceklak. (alias tidak dapat dijadikan hidden camera. kok niatnya gini ya? sudahlah itu kan urusan dia pribadi). sementara teman lain yang memiliki jenis dan merek hape yang sama tidak mengalami 'ceklak'.

saran saya kepada teman itu adalah: "update dong firmware-nya," saya. "emang itu urusan sofwer?" ceklak. "yang saya baca dari internet sih gitu," saya. "halah, aku kan gap-tek," ceklak

itulah jawaban paling mudah. padahal kalau mau sedikit bersusah-payah masalah 'ceklak' bisa diatasi. betapa tidak! di kantornya ada saluran internet dengan koneksi broadband. ia juga punya kabel data untuk mengsinkronisasikan (salah satu kegunaannya) hapenya dengan pc. untuk mencari firmware yang dibutuhkan kalau tidak tahu kan bisa minta tolong mesin ini. masih kurang juga? tanya sama tetangga yang mempunyai hape sejenis. atau, jangan ragu-ragu dan sungkan, hubungi call center si hape.

tapi menghubungi call center belum tentu mengatasi masalah anda. seperti yang pernah saya alami... saya ingin meng-update firmware. yang paling gampang ya datang langsung ke service centre. tapi waktunya yang rada susah. (masa sih kudu telat masuk kantor gara-gara updet itu). pilihan berikut adalah sambangi situs hape itu.

mengapa harus di situs resmi?
di sini kita dapat memperoleh software/firmware yang resmi dan bebas virus. loh, kan ada forum lain. memang sih banyak milis atau forum yang dikelola oleh para pemilik hape. di sini banyak bertebaran 'tips and tricks'. juga software sejenis pc suite yang kadang lebih canggih dari pc suite buatan resmi hape-nya. di salah satu forum malah ada trik buat mengubah se k-750 menjadi w800. tapi, berhati-hatilah salah-salah garansi hape anda hilang tak berbekas karena menggunakan software bukan aslinya.

seus. inilah yang saya butuhkan. filenya lumayan besar. alhamdulillah koneksi internet broadband. tinggal klik dan tinggalkan dia jalan sendiri :d. setelah di-install dan sesuai petunjuk yang ada saya mulai mencoba perangkat lunak itu. coba pertama tidak berhasil. kedua kali gagal. ketiga, ah, nanya aja ke call center.

setelah basa-basi, saya langsung ke akar masalah. "kenapa ya saya tidak bisa melakukan update lewat internet?" jawab si mbak: tunggu sebentar ya pak. lanjut:
bapak internet dari mana? jujur saya jawab dari kantor. si mbak: bapak sudah mengikuti petunjuk yang ada? saya: ya sudah, tapi gak bisa. si mbak: tungu sebentar ya pak. lanjut: bapak donlod seus-nya dari situs resmi kan. saya: iya dong mbak. si mbak: tunggu sebentar ya pak. lanjut: coba pak add hardware. saya: ini udah kebaca kok hapenya sama komputer. si mbak: coba bapak lihat device managernya ada gak... bla-bla-bla... tunggu sebentar ya pak. saran terakhir si mbak: bapak un-install dulu aja software-nya setelah itu install lagi.

kalau saya tahu dengan pasti bahwa sarannya adalah 'uninstall' tentunya saya tak perlu repot-repot menelepon call center. dan, yang juga membingungkan sekaligus mengesalkan adalah mengapa sih tidak menaruh orang yang benar-benar berkompeten di garda depan ini? kalau sang support mempunyai pengetahuan produk tentu saya tidak akan mendapatkan pernyataan: tunggu sebentar ya pak.

mudah-mudah-an saja anda tidak mengalami hal serupa. meski mengalami kejadian tak enak ini, di lain waktu saya tetap akan call ke call center. karena sebelum-sebelumnya saya mendapatkan semua jawaban atas semua pertanyaan yang ada.

Wednesday, September 13, 2006

pu-yung-hai jadi-jadian...

keluarga kami adalah keluarga kecil. kecil dalam artian diam di rumah yang kecil. jumlah jiwanya pun kecil hanya tiga orang. daerahnya pun termasuk kecil. komplek perumahannya juga kecil. jadinya semua serba kecil. :d

pasti ada untung dan ruginya mempunyai keluarga kecil. ruginya, kalau boleh dibilang sebagai kerugian, adalah orangnya itu-itu lagi. ketemunya dia-lagi-dia-lagi. kalau ada pekerjaan yang harus mengerjakan ya tiga orang itu juga.

sementara dari sisi keuntungannya adalah kalau belanja ya tidak perlu banyak-banyak. namun demikian, keuntungan ini kalau tidak disiasati dengan baik, kadang jadi merugikan. ambil misal, belanja sayur-mayur. ibunya nanda hafal sekali pola makan para penghuni rumah kecil itu karenanya ia belanja dengan pola minimalis. atau hanya untuk sekali masak.

hanya saja tukang sayurnya kadang tak bisa diajak kong-kali-kong, eh, salah maksudnya kompromi: 'sudah dibilangin beli sedikit. eh, dikasihnya banyak juga.' alhasil sayur, sop misalnya, yang harusnya habis untuk satu hari makan, malah masih ada sisanya. dibuang jelas tidak mungkin. mubazir atau menyia-nyiakan makanan jelas salah. 'mubazir itu teman setan,' kata seorang teman.

sayapun iseng-iseng bereksperimen lagi. (masih ingat dengan nasi goreng jadi-jadian?) mulailah saya 'bekerja'. sayur sop itu saya buang kuahnya hingga tinggal daging dan sayur-sayurannya. saya cincang semuanya menjadi irisan kecil. lalu saya masukkan ke dalam telor yang sudah saya kocok sebelumnya dengan bumbu merica dan garam secukupnya.

saya aduk-aduk 'adonan' daging plus sayuran itu di dalam telor agar menyatu. siapkan wajan anti lengket. siramkan minyak goreng. saat panasnya merata saya masukan telor kocok itu. selebihnya ya seperti menggoreng telor dadar. dan, ini memang telor dadar isi yang mirip dengan pu-yung-hai, salah satu masakan tionghoa yang populer. hanya bedanya kalau pu-yung-hai asli isinya kepiting.

bagaimana rasanya pu-yung-hai jadi-jadi-an ini? kata nanda sih enak :d. lebih enak lagi kalau menggorengnya pake palm oil. tak perlu banyak. selain tak membuat si 'pu-yung-hai' tidak bermandikan minyak, palm oil 'tak tidur' meski si telor dadar sudah dingin. mau mencoba? :d

Tuesday, September 12, 2006

jangan menghakimi buku...

judul postingan hari ini adalah plesetan resmi dari 'don't judge a book by its cover'. padahal, cover atau sampul merupakan yang pertama kali kita lihat ketika akan membeli buku. apalagi cover buku sekarang juga keren-keren seperti yang terlihat di situs kang harris atau di sini. (tapi itu kan di mancanegara, sergah seorang teman. lho, cover made in indonesia juga gak kalah kok, jawab yang lain! biarkan mereka berdebat ya :d)

sebenarnya ungkapan lama, yang yang tentunya jangan diartikan harfiah adanya ini, saya pinjam untuk menganalogikan cerita seorang teman lama.
alkisah teman satu ini sedang naik angkot untuk pulang ke rumahnya. singkat cerita penuhlah angkot yang ditumpangi. salah dua penumpangnya adalah ibu dan anak gadis dengan bawaan yang lumayan banyak. teman saya yang duduk di sebelah si ibu ikut bersempit-sempit dengan bawaan itu.

semakin dekat ke arah rumah teman itu penumpang semakin berkurang. tak lama naik seorang pemuda yang kelihatan kemayu. dan, duduk dengan pintu masuk. dalam hati teman saya ini berkata: 'gak bakalan deh si kemayu itu ngebantuin si ibu'. ternyata, oh, ternyata dugaan teman saya itu salah total. saat si ibu yang sedang kerepotan dengan barang-barangnya, mas yang kemayu itu malah dengan sigap membantu.

'makanya jangan sok tahu,' kata teman yang lain. 'bukannya sok tahu, elo juga gak bakalan kepikiran deh kalo ngeliat penampilan si mbak, eh, mas yang kemayu itu. gayanya aja manis gitu. tapi, ya, udah ah, pokoknya sekarang gua gak mau sembarangan lagi menghakimi penampilan seseorang.'

lain waktu seorang teman yang lain lagi mempunyai cerita yang mirip. 'halah, manja banget sih mo duduk aja pake minta geser-geser segala,' kata teman itu memulai ceritanya mengenai seorang wanita yang ingin duduk di angkot. setelah wanita itu duduk barulah teman saya sadar bahwa anggapan manja itu salah sama sekali. ia pun beristigfar manakala memperhatikan tangan si wanita. ternyata tangan si mbak ini ada kelainan sehingga menyulitkannya untuk berlaku seperti orang normal umumnya.
setiap orang barangkali pernah mengalami ini. saya pun pernah 'menghakimi sebuah buku dengan sekilas melihat sampulnya'. namun, semoga dengan belajar dari cerita teman-teman tadi, saya akan lebih mampu untuk tidak memberikan penilaian apapun manakala melihat seseorang, apalagi orang yang baru pertama kali saya lihat.

Monday, September 11, 2006

surat-menyurat singkat...

"...HiD, IM$ULkeCrZ, LtsGt2gthr ASAP. ILU 4e. H&K."

entah karena sesuai namanya yaitu sms alias short message services (tapi sering juga di'pleset'kan sebagai surat-menyurat singkat), mengirimkan atau menerima sms (sepertinya harus) singkat dan padat. kalau perlu ya disingkat semuanya bagai kutipan di atas yang tautannya ada di sini.

saya bukanlah 'sms addict' seperti kebanyakan orang. saya kagum dengan mereka yang entah saat senggangnya, saat menunggu di manapun, ketika di kendaraan umum, saat di mesjid atau saat dibonceng ojek sekalipun jari-jemarinya dengan lincah memijat-mijat keypad hape untuk mengirimkan pesan. dan, tentu saja, ini adalah hak mereka sepenuhnya.

kemarin seorang teman yang setahu saya hobi bersms-ria mengirimkan singkatan yang sering dipakai saat saling sms-an. barangkali sudah banyak yang mengerti. mungkin juga ada yang belum tahu seperti saya yang kalau menerima sms dari keponakan harus mengernyitkan kening: 'maksudnya apa sih ni?' selamat menikmati.

hbtu : Happy birthday to you
@WRK ; At work (Sedang kerja)
2bctnd ; To be continued. (Bersambung)
2d4 : To die for (Sangat berharga)
2g4u : Too good for you (terlalu bgs u/ mu)
2Ht2Hndl : Too hot to handle. (Tak bisa dipegang)
2l8 : Too late (Terlambat)
2WIMC : To whom it may concern (Kpd yg berkepentingan)
4e : Forever (Selamanaya)
4yeo :For your eyes only (Rahasia)

AAM : As a matter of fact. (Sebenarnya. )
ADctd2uv : Addicted to Love (Mabuk kepayang)
AFAIK :As far as I know (Sepanjang pengetahuanku. )
AKA : Also known as (dikenal juga sebagai)
ALlWanIsU : All I want is You (Hanya kau yang kuinginkan)
AML : All my love (Seluruh cintaku)
ASAP : As soon as possible (Secepat mungkin)
ATB : All the best (Yang terbaik)
ATW : At the weekend (Di akhir pekan)
AWHFY : Are we having fun yet (Sudah senang-senang belum?)

B4 : Before (Sebelum)
BBFN : Bye Bye for now. (Sampai jumpa)
BBS : Be back soon (Segera kembali)
BBSD : Be back soon darling (Segera kembali,Sayang)
BCNU : Be seein' you (Sampai nanti)
BF : Boy Friend (Pacar)
BGWM : Be gentle with me (Jangan kasar pdku)
BMW : Be my wife (Maukah kau jadi istriku)
BRB : Be right back (Segera kembali)
BTW : By the way (Omong-omong)

Cm Call me (Telepon aku)
Cu See you (Sampai jumpa)
CUIMD See you in my dreams (Sampai jumpa dalam mimpi)
Cul See you later (Sampai ketemu lagi)
CUL8R See you later (sampai ketemu lagi)

Dk > Don't know (Tak tahu)
Dur? > Do you remember (Kau ingat

E2eg> Ear to ear grin (Menyeringai lebar)
EOD > End of discussion (Akhir perbincangan)
EOL > End of lecture (Akhir perkuliahan)

F? > Friends (Kawan)
F2F > Face to face (Berhadapan)
F2T > Free to talk (Bebas Bicara)
FITB > Fill in the Blank (Isi titik-titik, isi sendiri bagian yang kosong)
FYEO > For your eyes only. (Rahasia)
FYA > For your amusement (Untuk senang2)
FYI > For your information (Sebagai informasi)

GF> Girlfirend. (Pacar)
GG => Good Game (Ucapan ketika kedua pihak yang berseteru selesai melakukan pertandingan)
Gr8 > Great (bagus)
GSOH > Good Salary, Own Home (Gaji OK, punya rumah)
GTSY > Glad to see you (Senang bertemu dgmu)

h2cus > Hope to see you soon (Kuharap kita akan segera bertemu lagi)
H8 > Hate (Benci)
HAGN > Have a good night (Selamat tidur)
HAND > Have a nice day (Selamat bersenang2)
HldMeCls > Hold me close (Peluk aku erat-erat)
Ht4U > Hot for You ("Panas" untukmu)
H&K > Hugs and Kisses (Peluk cium)

IDK => I dont know (Aku tak tahu)
IIRC > If I recall correctly (KL tdk salah ingat)
IMHO => In my humble opinion (Menurutku)
IMI => I mean it (Aku sungguh-sungguh)
ILU > I love You (Aku cinta padamu)
IMBLuv > It must be Love (Ini pasti cinta)
IOW > In other words... (Dengan kata lain.)
IOU => I owe you (Aku berhutang padamu)
IUSS > If you say so (Baiklah)

J4F > Just for fun (Sekedar bersenang-senang)
JFK > Just for kicks (Iseng-iseng)
JstCllMe > Just call Me (Telepon saja aku)

KC > Keep cool (Tetap tenang, jangan langsung marah, dst)
KHUF > know how you feel (aku mengerti perasaanmu)
KIT > Keep in touch (hubungi aku terus)
KOTC > Kiss on the cheek (Cium pipi)
KOTL > Kiss on the lips (Cium bibir)

L8 > Late (Telat, malam)
L8r > Later (Nanti)
Lol > Laughing out loud (Tertawa terbahak-bahak)
LTNC > Long time no see (Lama tak jumpa)
LtsGt2gthr > Lets get together (Kita ketemu yuk)

M$ULkeCrZ > Miss you like Crazy! (Rindu kamu ½ mati)
M8 > Mate (Kawan, pasangan)
MC > Merry Christmas (Selamat Natal)
MGB > May God Bless (Semoga Tuhan Memberkati)
Mob > Mobile (Mobil, bergerak)
MYOB > Mind your own Business (Jangan ikut campur)

NA> No access (Tak blh msk, tak ada akses)
NC> No comment (Tak ada komentar)
NWO > No way out (Tak ada jalan keluar)

O4U > Only for you (Hanya untukmu)
OIC > Oh, I see. (Oh, begitu.)
OTOH > On the other hand (Di sisi lain)

PCM > Please call me (Tolong telepon aku)
PPL > People (Orang-orang)
QT > Cutie (Orang yang Lucu, imut, keren)
R > Are
RMB > Ring my Bell ( tolong ingatkan aku)
ROTFL > Roll on the floor laughing (Tertawa terpingkal-pingkal)
RU? > Are you? (Kamu?)
RUOK? > Are you Ok? (Kamu baik-baik saja?)

SC > Stay cool (Tenanglah.)
SETE > Smiling Ear to Ear (Tersenyum lebar)
SO > Significant Other (Pendamping)
SOL > Sooner or later (Cepat atau lambat)
SME1 > Some One (Seseorang)
SRY > Sorry (Maaf)
SWALK > Sent with a loving Kiss (Dikirim dengan cium mesra)
SWG > Scientific Wild Guess (Tebakan ilmiah

T+ > Think positive (Berpikir positif)
T2ul > Talk to you later (Nt kita bicara lagi ya.)
TDTU > Totally devoted to you (Cinta mati padamu)
Thx > Thanks (Terima kasih)
T2Go > Time to Go (Waktunya berpisah)
TIC > Tongue in Cheek (Ramah)
TMIY > Take me I'm yours (Aku milikmu)
TTFN > Ta ta for now. (Sampai jumpa)

U > You (Kamu)
UR > You are (Kamu)
URT1 > You are the one (kamulah orangnya)

VRI > Very (Sangat)
W4u > Waiting for you (Menantimu)
WAN2 > Want to (Ingin)
WLUMRyMe > Will you marry Me? (Maukah kau menikah denganku?)
WRT > With respect to (Salam hormat untuk)
WUWH : Wish you were here (Andai kau di sini.)

X! > Typical Woman (Wanita biasa)
X > Kiss (Cium)
XclusvlyUrs > Exclusively Yours (Milikmu seorang)

Y! > Typical Man (Pria biasa)
YBS > You'll be Sorry (Kau akan menyesal)

setelah ini, boleh jadi, sms anda isinya hanya singkatan dan singkatan. asal yang dikirimi mengerti tentunya tak menjadi masalah ya. dan, sebaliknya siaplah dimaki kalau penerima sms anda tak mengerti 'bahasa' anda.

Wednesday, September 06, 2006

halah... dia datang lagi...

sudah pernah lihat elang bondol yang nama latinnya haliastur indus? kalau belum, gambarnya dapat disimak di samping ini yang saya unduh dari situs ini. elang yang merupakan maskot kota jakarta ini termasuk satwa langka. dan, di perbatasan jakarta-depok ada patungnya sedang menggenggam salak condet. jadi kalau anda ke depok, patung ini ada di sebelah kanan anda. agak tertutup (aneka spanduk dari pusat perbelanjaan yang ada di depok) memang, jadi harus jeli melihatnya.

kemarin ada elang yang mampir ke kantor. untung bukan elang bondol. karena kalau bondol urusannya kita harus mengembalikannya ke balai taman nasional kepulauan seribu yang mengurusnya. tapi elang yang kemarin datang itu 'ngeselin' banget deh. :d betul! dia adalah (elang) 'brontok', salah satu jenis elang yang namanya dicatut sama pembuat virus. dan, yang nemplok di komputer kantor adalah varian baru.

entah mengapa si brontok 'mejeng' di situ. padahal, komputer itu baru saja di-install anti virus yang lumayan kondang dan direkomendasikan pula oleh pembuat os terkenal. tapi, sehebat-hebatnya anti virus ternyata lebih hebat virusnya. waktu nanya sama teman yang 'gila' komputer soal si brontok ini, dia malah menjawab: 'yang 'notepad' itu kan? gua udah kena duluan, hehehe." varian baru ini memang mengubah 'msconfig' dan 'regedit' menjadi notepad.

bagaimana cara membersihkannya? banyak panduan yang beredar di milis/internet. salah satunya ada di sini. tapi, berhati-hatilah sebelum melakukan pembersihan virus (yang pembuatnya dimaki-maki dan disumpahin banyak orang di berbagai milis) ini. karena itu sudah menyangkut 'jeroan' atau registry sistem operasi komputer. salah buang bakalan 'error' jadinya. tapi, jangan juga takut untuk mencoba.

cara lain ya menggunakan anti virus. namun harap diingat, brontok ini virus lokal. anti virus dari mancanegara belum tentu mampu menangkapnya. di situs yang saya sebut tadi disertakan juga anti virus yang kecil ukurannya (dapat masuk flash disk, yang sering disalahkaprahkan menjadi usb :d). kata teman saya yang 'gila' itu pake ini ampuh juga. saya belum mencoba. silakan saja tapi tanggungjawab tetap sepenuhnya di tangan anda.

cara lain lagi? ya reformat saja harddisk-nya. dijamin semua virus yang ada bersih tuntas. tentu saja back-up dulu semua data yang ada. dan, reformat harddisk, kalau tidak salah saya baca, memang dianjurkan.

apapun pilihan anda. semuanya ada resikonya. hah???

Monday, September 04, 2006

kunyit lagi... bagian terakhir, koq

Dari sebuah artikel di majalah Nirmala, saya bisa lebih memahami cara kerja kunyit dalam menyembuhkan radang amandel. Ternyata benar, semuanya berasal dari ampas makanan dan timbunan lendir di tenggorokan. Ramuan kunyit bekerja membersihkan ‘sampah-sampah’ yang menempel di dinding tenggorokan dan usus. Pantas saja, setiap kali saya harus menyiapkan wadah muntah bagi Nanda. Setelah diberi ramuan kunyit, tak lama Nanda akan memuntahkan lendir berwarna putih yang seperti ludah basi atau ingus. Proses itu bisa berlangsung seharian.

Awalnya makanan yang diberikan ikut dimuntahkan bersama lendir itu. Tapi tetap saja makanan dan minuman harus diberikan sedikit-sedikit. Juga ramuan kunyitnya. Supaya anak punya energi dan tidak dehidrasi. Secara bertahap, ia kemudian hanya akan memuntahkan sisa-sisa lendir saja, tidak disertai makanannya. Dan kemajuan yang paling penting adalah ketika ia bisa buang air besar. Di sini racun-racun dalam usus yang dibersihkan oleh ramuan kunyit itu terbawa keluar. Sehingga pernah saya perhatikan bahwa kotorannya berwarna kehitaman. Entah camilan junk-food mana yang membawa racun seperti itu di usus. Setelah proses ini, hanya berselang sehari insya Allah Nanda akan pulih kembali.

Faktor keempat, adalah informasi. Sebagai ibu (atau siapapun orang terdekat yang merawat dan mengurus anak) kita harus well informed. Bahkan amandel membengkak sebenarnya bukan hanya disebabkan radang tenggorokan seperti yang diderita Nanda selama ini, tapi bisa juga karena gondongan atau infeksi telinga (atau mungkin jenis penyakit lain, yang informasinya belum saya ketahui). Perbedaan pada gejalanya pun kadang tipis saja, misalnya pada gejala DBD atau tifus. Walaupun agak enggan ke dokter, tapi selama ini setiap kali Nanda demam, saya selalu bersiap-siap pada kemungkinan untuk membawanya ke RS. Soal melek informasi ini saya punya contoh terbaru yang paling tepat.

Kemarin sehabis dari Bodogol (ceritanya ada di sini dan di sini juga), kami sekeluarga langsung mampir ke Megamendung, menginap di sebuah hotel di sana (taela, kapan lagi nginep di hotel dengan diskon 50 persen?) Pasalnya, esok harinya, Minggu 20 Agustus, RT kami akan merayakan 17 Agustus-an di hotel tersebut (Anda tidak salah baca, memang demikian halnya… dan percaya deh, di sana bukan cuma RT kami yang merayakan 17 Agustusan, tapi ada banyak RT lainnya dari pelosok Jakarta. Pantesan wilayah Puncak macet hingga 7 jam) Nah, sampai di hotel jam empat sore, Nanda langsung ikut temannya nyemplung ke kolam renang hingga menjelang maghrib. Esok paginya, Nanda dan temannya cibang-cibung lagi di kolam hingga dua jam. Siangnya setelah acara rame-rame, nyebur lagi dua jam lagi. Nggak ada capenya tuh anak-anak.

Sepanjang pekan berikutnya, selain acara belajar di kelas, Nanda juga harus ikut program jogging (Rabu dan Jum’at siang) di sekolah dan berenang hari Kamisnya. Hari Sabtu temannya mengajak main seharian dan hari Minggu kami mengajak Nanda kondangan ke acara sunatan. Seingat saya, pekan lalu itu asupan sayur dan buah Nanda termasuk cukup, tapi konsumsi junk-foodnya waktu snack siang di sekolah —juga esnya waktu kondangan— agak berlebihan. Selain itu, belum pernah dia istirahat saja secara full di rumah. Akibatnya, Selasa kemarin (29 Agustus) Nanda ambruk kena demam tinggi lagi.

Saya sudah menjalankan prosedur tetap, yaitu memijat dan mengeroki-nya. Pada beberapa kasus akibat kelelahan, cara ini biasanya mujarab. Panasnya akan langsung turun. Tapi kali ini tidak. Saya sudah membaluri perut dan punggungnya dengan parutan bawang merah, dicampur minyak goreng dan minyak kayu putih. Dia berkeringat sebentar, tapi kemudian panasnya naik lagi. Dia juga segera mengeluh lehernya sakit, dan saya pun memberinya ramuan kunyit. Tapi aneh, kali ini Nanda tidak langsung membaik Ada apa gerangan?

Pada hari keempat, Bu Susilo, tetangga sebelah, membesuk sambil membawa buah-buahan. Ia bertanya Nanda sudah diobati apa saja. Saya katakan tentang ramuan kunyit itu. “Berapa banyak?” dia bertanya menyelidik. Saya bilang seperti takaran yang sudah-sudah. Yaitu sesendok kecil, sedikit-sedikit tapi sering. “Waaah, kurang itu. Faisal saya kasih ramuan setengah gelas. Kunyitnya yang biang itu lho. Ada dua kilo saya parut waktu itu. Sekarang amandelnya sudah sangat mengecil. Nggak pernah ngadat lagi.” Alhamdulillah. Baru ‘ngeh’ saya. Rupanya dosis yang saya berikan selama ini dosis tempo doeloe, waktu Nanda masih balita. Sekali dia muntah, ramuan kunyit nya pun sirna. Asyik juga, ya, punya tetangga yang memiliki kesamaan orientasi di bidang pengobatan alternatif, yaitu herba.

Segera saya ubah dosis ramuan kunyit-nya. Saya ke pasar, memborong kunyit biang dan jeruk nipis. Untung Ayahnya Nanda rutin membeli madu alam Sumbawa dari teman sekantor, jadi selalu tersedia di rumah. Setelah meminum ramuan sebanyak seperempat gelas, hasil yang nyata segera tampak. Nanda bisa tertidur tenang tanpa suara ‘grok-grok’ lagi. Panasnya turun. Saya juga lega karena kali ini pun saya tak harus pergi ke RS. Tadinya saya sudah berencana segera ke dokter untuk minta surat pengantar periksa darah. Nanda pun sebelumnya, dalam keadaan demam tinggi dan merasa lehernya tercekik, sudah bertanya-tanya: “Dulu waktu Ibu dioperasi bagaimana rasanya? Biayanya besar enggak?” Duuuh, perasaan saya tak keruan waktu harus menjawabnya.

Di era informasi ini, para ibu sungguh beruntung karena informasi masalah kesehatan berlimpah di media massa elektronik atau media cetak. Apalagi jaman berjangkitnya mass disease seperti sekarang ini —SARS, polio, PMK, flu burung— masya Allah, kita tak boleh lengah. Namun, seperti halnya pengalaman saya, jangan pernah sepelekan info dari pengalaman empiris, yaitu pengalaman kenalan atau tetangga. Ternyata sangat besar gunanya. Saya harap Anda juga bisa memetik sesuatu dari pengalaman saya ini.

Dan satu faktor kunci lagi yang justru harus dijauhi, yaitu sikap menggampangkan dan tidak peduli. “Susah-susah amat, operasi saja, beres kan?”, “Udah, ke dukun aja,”, “Ngurus anak satu saja repot, kita aja yang anaknya banyak cuek aja,”,” “Anak-anak sih dibebasin aja, mau ngapain kek, mau makan apa kek. Selain nggak kuper, badannya jadi kuat, tau.”, “Anak sakit kok nggak dibawa ke dokter, kalo ada apa-apa, baru tau rasa.”, “Anak saya sih sakit bisa ditinggal. Minum obat sendiri juga bisa. Suruh pembantu aja ngingetin.” Ucapan-ucapan seperti itu, yang sering saya dengar selama ini, selain menorehkan sebersit rasa pedih di hati, juga mendorong saya untuk memberi jawaban tegas atas pilihan sikap yang saya tempuh selama ini.

Beruntunglah mereka yang anaknya tidak menderita radang amandel seperti Nanda, karena tak akan direpotkan oleh masalah pengaturan makan seperti saya. Namun masalahnya yang mendasar adalah, pengaturan makan memang perlu. Anak-anak seharusnya memang diajak lebih mencintai makanan sehat ketimbang camilan sampah. Kita tidak bicara untuk akibatnya pada masa ini, tapi pada puluhan tahun mendatang dalam hidup mereka, di mana jika tak punya kesadaran tentang pola makan yang baik sejak dini, akan berdampak buruk bagi kesehatan. Ini berlaku bagi semua anak, tidak hanya yang menderita amandel.

Kedua, di masyarakat kita, kalangan medis memang memiliki otoritas tertinggi di bidang kesehatan. Tapi seperti pengalaman saya, ada begitu banyak pilihan solusi, dan ambil yang terbaik menurut kita. Dan seyogyanyalah —mengutip pendapat Andang Gunawan yang saya hormati— dokter itu bersikap sebagaimana makna dari nama profesinya yaitu doctor (dari Yunani: docere, artinya mengajarkan sesuatu). Jadi sudah bukan masanya dokter enggan berbincang dengan pasiennya tentang solusi dari penyakitnya, dan hanya sekedar jadi agen pengecer obat lewat penulisan resep. Dokter Lusi di kompleks saya adalah contoh dokter yang ramah, santun dan telaten terhadap pasiennya.

Ketiga, apa salahnya jika seorang Ibu memberi perhatian penuh pada anaknya? Apakah ada klaim bahwa hal itu kelak membuatnya jadi anak Mami, tidak mandiri atau manja? Saya rasa perkembangan kepribadian anak terbentuk melalui beberapa tahapan dan proses. Jika di usianya sekarang Nanda saya biarkan saja, toh ia akan berusaha mencari sosok lain tempat ia menyandarkan diri atau meminta bantuan dan perhatian. Pada beberapa kasus, saya lihat anak yang kata ibunya mandiri ternyata banyak mendapat bantuan dari pembantu rumah tangganya. Yang jelas saat ini saya tidak bisa lari dari tanggung jawab saya sebagai ibu, dan ada saatnya nanti saya akan memberi tambahan beban tanggung jawab pada Nanda dan memintanya lebih aktif mengurus dirinya sendiri.

Well, sebelum tulisan ini jadi terlalu emosional, sebaiknya saya tutup saja ya ceritanya. Dan sebenarnya, di atas semua faktor yang saya sebutkan tadi, ada satu faktor yang paling mutlak dan maha penting yaitu rahmat dan perlindungan Allah swt. Tanpa hal itu, entah bagaimana kita akan menjalani hidup ini. Subhanallah wal hamdu lillah wa la ila ha ilallahu allahu akbar! Wassalam. (Bunda Nanda).

masih kunyit...

Saya ingat, beberapa waktu sebelumnya saya ada membeli dua edisi khusus majalah Intisari tentang Obat Tradisional. Bukunya menarik, penjelasannya cukup detil dan gambarnya lengkap. Penasaran saya cari obat untuk radang amandel. Ada beberapa jenis tanaman yang berkhasiat untuk itu, salah satunya —masya Allah— selalu tersedia di dapur saya, yaitu kunyit. Kombinasi ramuannya adalah, seruas kunyit diparut, campurkan dengan air jeruk nipis dan madu, kemudian berikan sedikit-sedikit kepada anak, sesering mungkin. Tanpa buang waktu, saya coba cara tersebut, dan alhamdulillah, selang beberapa jam panas Nanda mulai turun dan tenggorokannya tidak sakit lagi.

Sejak saat itu saya tak ragu lagi akan khasiat kunyit untuk mengobati radang amandel. Dan yang lebih menggembirakan, puji syukur hanya kepada Allah, sejak kelas satu SD —ya waktu pertama kali mencoba ramuan kunyit itu— hingga kelas lima saat ini, Nanda belum pernah lagi mengkonsumsi obat antibiotik yang diresepkan dokter. Rasanya sudah cukup lah sejak usia dua bulan —pasca operasi— hingga usianya lima tahun Nanda sering dicekoki antibiotik karena radang tenggorokan dan amandel. Bahkan saya pernah ditegur petugas apotik ketika ia tahu bahwa tablet FG Troche yang sering saya beli —itu lho, yang bolong mirip permen Polo— adalah untuk mencegah radang amandel anak saya. “Ini kan sejenis antibiotik, Bu,” katanya mengingatkan.

Sebenarnya, ada apa dengan antibiotik sih? Saya tidak berpretensi menjadi seorang ‘ahli’ yang akan menghakimi antibiotik. Toh, di abad 20 kita telah menyaksikan bahwa antibiotik adalah obat ajaib yang menyelamatkan jutaan nyawa di dunia dari berbagai penyakit infeksi. Sejauh memang digunakan sesuai keperluan, antibiotik akan sangat bermanfaat. Masalahnya pada kasus radang amandel ini, penggunaan antibiotik bisa-bisa sampai ke taraf ‘ketergantungan’, jika kita hanya mengandalkan antibiotik semata. ‘Ketergantungan’ ini terjadi karena antibiotik mengebom habis organisme di usus, yang jahat maupun yang baik, sehingga setelah sembuh anak jadi kuyu dan gampang kena penyakit lagi. Dan pada hakikatnya, kunyit sendiri adalah antibiotik alami. Bahkan lebih baik lagi, karena ia mendorong terbentuknya daya tahan tubuh yang baik.

Dari berbagai artikel yang saya pelajari, juga dari pengalaman saya selama ini, saya menemukan beberapa faktor kunci untuk mengatasi masalah pada amandel. Pertama, adalah ketahanan tubuh. Saya menduga daya tahan tubuh Nanda lemah karena waktu kecil ia kurang asupan ASI (astagfirullah, seandainya saya boleh kembali lagi ke saat itu, segala cara akan saya tempuh agar ASI saya deras keluar. Saya tak akan menyerah begitu saja oleh ‘rayuan’ susu formula). Namun soal daya tahan tubuh ini sudah kami coba atasi dengan ‘doping’ vitamin. Mulai dari minyak ikan made in China ‘Tung Hai’, Becombion, Vita Sigi dari Sun Chlorella, Curcuma Plus, dan terakhir ada yang cukup bagus juga yaitu Mahkota Dewa yang diramu dengan temu mangga dan pegagan khusus untuk anak-anak. Sengaja semuanya kami berikan pada Nanda dalam tempo yang tidak terlalu lama (sekitar 1-2 bulan) dan berselang-seling, karena kami percaya konsumsi satu jenis atau satu merek vitamin secara terus-menerus dalam jangka waktu lama justru akan membawa efek yang kurang baik.

Yang juga ‘mendongkrak’ daya tahan tubuh Nanda kemudian adalah kegiatan berenang (berenang secara benar, bukan hanya main2 di air lho…) secara teratur. Sejak ia les berenang di kelas satu, amandelnya jarang sekali kumat. Setahun paling dua kali ia mengalami itu. Saya perhatikan amandel itu akan kumat jika memenuhi tiga syarat: Nanda sedang stres dan kelelahan (anak kecil bisa stres juga lo), makannya jelek (kurang asupan sayur dan buah) dan konsumsi junk-food yang berlebihan.

Faktor kedua, adalah gen. Teori tentang ini dilontarkan oleh dokter Lusi, tetangga kami. Kebetulan, saya dan Ayahnya Nanda ketika kecil juga diganggu oleh amandel yang sering meradang, dan sama-sama dioperasi amandel saat kelas 5 SD. Aduh Nak, jadi kemungkinannya kamu itu mewarisi kelemahan dari gen kami ya (Asalkan saja, untuk akhlak, kamu mewarisi yang bagus-bagus saja dari kami ya … Amiiin)

Pada tipe gen kami, ternyata jenis amandelnya memang kategori ‘hiperaktif’ Sedikit-sedikit organ tubuh yang sebenarnya sangat bermanfaat ini —karena fungsinya sebagai penjaga melawan bakteri dan kuman pada saluran pernapasan atas— memberi isyarat ‘awas, ada bahaya’ dengan jalan membengkakkan dirinya. Padahal si anak hanya sedikit panas dalam akibat kebanyakan makan coklat, misalnya. Sayangnya panas dalam pada Nanda tidak gampang-gampang diatasi dengan larutan penyegar yang banyak beredar di pasaran.

Di sisi lain, saya juga merasa ‘bersyukur’ setelah mengamati bahwa sesungguhnya lah amandel ini sudah bekerja dengan baik. Ada masalah sedikit di saluran pernafasan atas, dia sudah membengkak. Sedangkan pada anak lain, teman-temannya Nanda yang selama bertahun-tahun ini saya amati, tidak demikian halnya. Mereka bebas merdeka tanpa dibatasi seperti Nanda untuk sering-sering mengkonsumsi mie instant berbumbu lengkap, camilan yang gurih-gurih dan yummi seperti iklan di TV, atau es pinggir jalan yang es batunya sering saya lihat diseret di lantai menggunakan karung. Tapi ada satu saat kelak di mana daya tahan tubuh anak-anak itu kemudian jebol, tanpa peringatan sebelumnya oleh si amandel, dan kemudian terserang diare atau tifus.

Juga tentang si balita yang pernah saya lihat ingusnya meler dan batuk namun tetap menghabiskan es krimnya itu, saya dengar belakangan ia menderita sinusitis. Mungkin karena ‘sinyal’ tubuhnya tidak pernah direspon secara baik; walaupun pilek, walaupun malam hari atau cuaca dingin, minum esnya jalan terus. Alhasil lendir yang menumpuk di belakang rongga hidungnya mengeras dan membuat kepalanya pening di pagi hari. Naudzubillahi min dzalik.

Faktor ketiga, adalah kejelian ibu (atau siapa pun orang terdekatnya yang mencermati ritme hidup dan pola makan si anak). Kalau Nanda sudah cemberut terus dan mengeluh pegal-pegal di seluruh badannya, itu bagi saya adalah isyarat lampu kuning. Syukurlah Nanda bukan tipe anak yang suka jajan tanpa izin. Tapi belakangan di kelas lima ini es pandan, es teh atau es jeruk dan es krim, juga panganan seperti biskuit better, bengbeng, wafer coklat, astor, dan sejenisnya, ternyata jadi camilan sehari-hari Nanda di kelas karena ada snack siang yang disediakan bersama secara bergiliran.

Rupanya anak jaman sekarang memang susah menghindar dari yang seperti itu. Padahal di benak saya terpikir alangkah baiknya jika para Ibu bersepakat agar snack yang dikonsumsi anaknya adalah snack yang sehat seperti: kacang hijau, pisang goreng, ubi rebus, singkong rebus, kue talam, kue lapis, kue apem (alamak, jadul banget yak! Pastinya anak-anak serempak berteriak: oooh tidaaak…!) Ibu-ibu juga tampaknya tak mau repot. Beli saja yang pasti disukai anak-anak, begitu pikirnya. Saya pribadi rasanya sedih juga kalau Nanda harus terus ‘puasa’ sementara teman-temannya menikmati hidangan yang ada.

Sebagai ibunya, orang terdekat Nanda di rumah, saya menugaskan diri saya untuk sering-sering menanyakan apa saja yang diperolehnya sebagai snack siang di sekolah, juga menu kateringnya. Jadi saya bisa membatasi kalau dia minta lagi panganan sejenis saat di rumah atau berbelanja. Atau memberinya air hangat yang dibubuhi jeruk nipis (ini resep dari majalah Nirmala) di pagi hari. Agar riak atau dahak yang membuat tubuh meriang dapat digelontor. Tapi jeruk nipisnya sebaiknya ‘digarang’ dulu di atas api kompor agar tidak terlalu keras bagi lambung anak.

Selain itu, walaupun sudah ada kunyit yang ampuh, saya juga mesti jeli. Ramuan kunyit itu khasiatnya muncul secara berangsur dan bertahap, tidak seketika seperti pedasnya cabe rawit setelah digigit. Sementara anak tidak bisa berlama-lama dibiarkan panas hingga 40 derajat Celcius. Saat ia demam, saya juga memberikan obat penurun panas seperti Panadol (itu pilihan saya, karena tanpa alkohol) dan kompres. Karena saya pernah membaca bahwa pada DBD panas anak tidak akan turun dalam tiga hari pertama, walaupun sudah diberikan obat penurun panas. Dan setelah tiga hari, diberikan atau tidak obat penurun panas itu, panasnya akan turun sendiri, tapi ortu justru harus waspada karena ada kemungkinan renjatan (shock). Jadi bila panas Nanda turun segera setelah diberi obat tersebut, saya lega, karena berarti panasnya bukan karena DBD. Jika kemudian gejala panasnya naik lagi, itu karena penyakit yang sesungguhnya belum diobati.

Ketika Nanda demam, saya juga mengamati lidah Nanda. Kalau banyak kotoran putihnya, ada dua kemungkinan, panas dalam ataukah tifus. Kalau sudah begini, saya juga mencermati amandelnya, apakah membengkak. Juga pola buang airnya. Saat merawat Nanda, saya juga mengubah menu Nanda secara drastis. Yang sering saya lakukan adalah membuat bubur nasi dengan sup ayam atau belakangan ini dia senang sup jagung. Susunya saya stop, diganti dengan teh hangat campur jeruk nipis dan madu yang merangsang keluarnya dahak. Semuanya —makanan dan minuman itu— saya berikan sedikit-sedikit tetapi sering. Syukur jika ada air kelapa hijau yang saya campur dengan madu, agar dapat menetralisir racun-racun yang bercokol di perut.

Anehnya, saya akan lega jika ternyata pada hari kedua Nanda mengeluh lehernya sakit. Dan nun di sana, terlihat anak lidahnya ‘terjepit’ oleh gumpalan daging kemerahan di kanan dan kirinya. Tak salah lagi, amandelnya sedang berulah. Saya segera saja menyiapkan ramuan kunyit. Sedangkan jika sampai hari ketiga tak ada kemajuan yang berarti, misalnya panasnya tetap tinggi, tubuhnya makin lemah, saya akan melakukan yang seharusnya dilakukan: segera bawa ke rumah sakit! Bisa jadi ini DBD, tifus, atau penyakit lain yang lebih serius. Syukurlah, selama ini, saya tidak harus mengalami hal itu.

masih satu postingan lagi disini.

radang amandel ko oleh kunyit...

berbagi informasi itu hukumnya wajib, halah kata sapa sich? :d. tahu ayahnya nanda suka nge-blog, ibunya nanda tak tahan lagi untuk ikutan (seperti ditulisnya di pengantar). silakan menikmati cerita yang lumayan panjang ini dan untuk meringankan (?) membaca, postingan 'kunyit' ini saya bagi tiga bagian...

Assalamu'alaikum semuanya...

Perkenalkan, saya bundanya Nanda. Setelah sekian lama, akhirnya saya nggak tahan juga pengen ikut mejeng di blog ini. Bukan apa-apa, soalnya kalo mau bikin cerita tentang Nanda atawa sekolahannya tuh sebenarnya yang punya stok seabrek adalah saya, bukan bapaknya. Dari cerita yang lucu, mengharukan, menjengkelkan sampe yang tragis-ironis juga ada (iya apa iya, ah, kaya sinetron ajaaa..)

Tapi sebetulnya sih, yang ingin saya bagikan di sini bukan cerita gosip ala infotainmen, ataupun model diari keluarga. Karena untuk itu biar jatahnya Ayah Nanda saja yang tiap hari ngantor...

Cerita saya ini sesungguhnya adalah bentuk rasa syukur dari kami sekeluarga, seperti bunyi perintah pada ayat terakhir Surah Ad-Dhuha “Wa ‘amma bi ni’mati robbika fa haddist,” Dan jika mendapat nikmat, sering-seringlah menyebutnya.

Rasanya intronya sudah cukup lah ya. Saya akan mulai dengan awal ceritanya, yaitu ketika Nanda berusia 3-4 tahun ia sering menderita sakit panas. Kena batuk pilek sedikit, ia bisa terserang panas sampai 40 derajat Celcius. Syukurlah, ia tak mengalami komplikasi semisal kejang atau yang lainnya. Jadi kalau dibawa ke dokter, umumnya diagnosa dokter adalah sakit radang tenggorokan. Dan setelah minum antibiotik yang diresepkan, biasanya Nanda segera sembuh.

Namun menginjak usia TK, di mana kegiatan hariannya mulai cukup melelahkan, frekuensi Nanda terserang panas mulai meningkat. Pernah baru sembuh setelah seminggu sakit panas, eh minggu depannya sakit lagi. Kami sekeluarga jadi mengalami rutinitas yang merepotkan, karena di Depok pada tahun 2000 lalu, dokter anak yang ‘stand by’ pagi-pagi sekali cuma dokter Kemal, yang berpraktek di rumahnya di Pesona Kahyangan. Kalau diingat, dulu Ayahnya Nanda sebelum ke kantor seringkali mesti mengantar kami ke dokter Kemal dulu, dan mengantre dari pukul 06.00 sampai sekitar sejam berikutnya.

Secara fisik, Nanda terlihat sehat-sehat saja. Grafik di KMS-nya juga meningkat terus. Sayang ia punya reputasi sakit-sakitan alias langganan periksa ke dokter.Yang bikin saya penasaran kala itu, kenapa anak-anak seusia Nanda lainnya yang saya temui jarang yang mengalami sakit panas seperti itu. Sering kali saya melihat anak-anak balita yang maaf— hidungnya meler dan batuk-batuk tapi tetap saja ceria makan es krim kegemarannya. Nanda kena es sedikit, wah, bisa langsung panas. Satu ketika saya menuruti saran orang-orang agar ‘cuek’ saja mengenai makanan anak itu lho makan jajanan warungan yang serba crispy dan permen yang warnanya meriah— Hasilnya, ya, seminggu Nanda tergeletak karena demam tinggi.

Titik terang mulai tampak ketika suatu kali dokter Kemal berkata bahwa amandel Nanda bermasalah dan harus dioperasi. Amandelnya yang gampang membengkak itu yang jadi penyebab ia terserang demam tinggi. Ketika kami bawa Nanda ke dokter lain, opininya juga sama, bahwa amandel itu harus segera dioperasi. Saat itu saya jadi berpikir: “Sepertinya bagi para dokter mudah saja ya, ini bermasalah, itu bermasalah, operasi saja, potong saja…

Masalahnya, kami berdua yang notabene adalah orangtua baru yang miskin pengalaman, masih merasakan ‘miris’nya hati ketika menyerahkan Nanda yang baru berusia dua bulan kepada perawat untuk dibawa ke ruang operasi.

Ya, benar, ketika usia dua bulan Nanda harus dioperasi, karena menderita hernia (ususnya terjepit pada rongga antara daerah kelamin dan perut yang belum menutup sempurna). Untuk info tambahan, dokter yang menangani operasi hernia itu cukup kreatif dengan menawarkan pada kami agar Nanda sekalian saja disunat. Alasannya, karena kuatir Nanda kena fimosis (infeksi karena kotoran yang menempel pada kulit di ujung kelamin). Alhasil, di usianya sekarang ini Nanda sering melontarkan pertanyaan seperti: “Sunat itu sakit nggak sih?” , atau,” Kenapa sih kalau sunat harus dirayakan?”, “Kok aku disunatnya waktu kecil sih, nggak kayak teman-teman yang lain….” . Kami sering tersenyum dan menggodanya,” Nanda, kaciaaan deh kamu…

Setelah menguatkan tekad bersama untuk tidak mengoperasi amandel Nanda, kami pun berburu berbagai solusi alternatif untuk menaklukkan si organ yang bandel itu. Berbagai literatur di majalah, koran, buku dan internet kami buru untuk mencari terapi yang paling cocok. Awalnya kami sempat mengikuti saran untuk membawa Nanda ke ahli pijat akupresur langganan kantor Ayahnya. Sayangnya kantor Ayahnya jauh dari rumah, dan kalau sudah dipijat Nanda memang segar, tapi besoknya kecapekan lagi. Apalagi setelah si ahli pijat tidak bisa lagi ditemui di Tebet, melainkan di rumahnya di Bintaro pada hari Sabtu. Muacetnya itu, ampyuuun. Wah, pulangnya Nanda yang baru sakit, bisa sakit lagi.

Terbetik pula info bahwa dekat daerah kami ada orang yang bisa menyembuhkan amandel tanpa harus operasi. Caranya dengan doa-doa, kemudian bagian yang sakit ditempeli telur, dan ‘hup!’ amandel yang bengkak pun menghilang ke dalam telur. Kalau telur itu dipecahkan, konon tampak benjolan daging segar yang tercerabut…. Tapi ada seorang ibu bercerita pada saya, bahwa kerabatnya yang pernah menjalani operasi itu di lain waktu kembali lagi menderita radang amandel. Wallahu a’lam bissawab.

Sekali waktu, kami membaca di majalah Nirmala tentang obat Homeopathy yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah amandel meradang. Info yang menarik itu segera kami respon, hingga kami sampai ke tempat pembuatannya di Permata Hijau. Klinik homeopati itu dikelola oleh sekelompok relawan dari aliran Ahmadiyah. Walaupun ada perbedaan pandangan keagamaan, kami dapat merasakan ketulusan para relawan itu. Ketika kami tanya berapa harga obat amandel itu, Subhanallah, mereka menjawab,” Terserah Ibu dan Bapak saja, kami terima seikhlasnya…..” Obat homeopati yang kami peroleh terbukti manjur, karena setelah beberapa kali dikonsumsi ketika Nanda demam tinggi, sekitar dua hari kemudian ia pun segar kembali.

Terus terang, yang agak repot dalam hal obat homeopati ini adalah penanganannya. Obatnya yang kecil-kecil seperti merica berwarna putih salju itu sangatlah sensitif. Tangan kita tak boleh berbau yang menyengat seperti sabun, minyak kayu putih atau parfum— ataupun berkeringat saat memegangnya. Menyimpannya juga harus hati-hati. Sebelum dan sesudah mengonsumsi obat itu untuk anak-anak sekitar 10 menit lah— si penderita harus puasa. Jadi bau mulut pun harus alamiah. Sikat gigi sebelum dan sesudah mengonsumsi obat dilarang keras. Belum lagi waktu pemberian yang bisa beberapa jam sekali. Akan sangat merepotkan jika harus berbenturan dengan jadwal padat sehari-hari.

Sebagaimana anak-anak, Nanda senang sekali dengan obat homeopati yang memiliki rasa manis itu. “Ibu, lagi dong permen cicak-nya,” sering dia berkata. Lho, obat kok disamakan dengan permen. Tapi akhirnya, ada saatnya saya beralih ke pengobatan lain ketika suatu kali Nanda sakit panas (lagi) sementara Ayahnya sedang sibuk dengan pekerjaan kantor, padahal persediaan obat homeopati sudah habis. Mau ke dokter, kok sayang ya. Saya pasti ‘dimarahi’ dokter kalau mereka tahu saya membiarkan saja amandel anak meradang. Kenapa tidak dioperasi saja, kira-kira begitu komentar mereka.

sambungannya disini