arloji...

6:20 PM

selesai jumatan, saya dan teman-teman se-kantor biasanya langsung makan siang. pilihan menu cukup beragam. mulai dari kelas ‘aw’ alias ‘american warteg’, junk food (sebutan kami untuk makanan cepat saji dari mancanegara), padang, ayam bakar kalasan sampai betawi (yang saya sebut terakhir ini, insya allah, jadi posting-an tersendiri). oh, ya, ada dua mesjid yang berdekatan dengan kantor (bos) saya di daerah tebet.

yang satu lokasinya hanya sepelemparan batu. (jadi, kalo mau nekad, saat adzan dilantunkan muazin juga takkan ketinggalan sholat jumat :d.) mesjid satu lagi agak jauh letaknya namun masih dapat dijangkau dengan berjalan kaki. di mesjid yang rada jauh ini, di depannya terbentang tanah seluas lebih kurang ukuran lapangan sepak bola.

setiap hari jumat lapangan itu penuh sesak dengan para pedagang. mau makan mi ayam, sate padang, ketoprak, soto ayam, batagor, soto mi, tongseng, gorengan tempe atau es doger, semua tersedia lengkap. dijual juga di situ handle pintu, mainan anak, baju sadariah, korek api aneka model sampai arloji. melihat aneka arloji saya jadi teringat sebuah kisah tentangnya:

adalah seorang bapak yang mendapatkan hadiah berupa arloji. bapak ini sangat sayang dengan barang itu dan dijaganya selalu baik-baik. ibarat kata setitik debu pun tak boleh menempel. bapak ini bekerja di perusahaan penggergajian kayu. suatu saat, tanpa sengaja, ia menjatuhkan arlojinya ke tumpukan serbuk gergajian. panik dan bingung bercampur jadi satu. diacak-acaknya tumpukan serbuk itu tapi arloji tercinta tak ditemukannya.

teman-temannya bertanya-tanya. setelah dijelaskan mereka semua membantu. tapi arloji itu tetap raib. saat istirahat tiba pencarian dihentikan. usai istirahat tim ‘search and rescue’ kembali bertugas. namun hasilnya nihil, arloji kesayangan tak ditemukan. putus asalah sang bapak. tim ‘sar’ berhenti bekerja.

lalu ada seorang anak kecil yang juga menanyakan ada apa di situ. ia pun mencoba menemukan arloji itu. orang dewasa saja tidak menemukan, apalagi anak kecil ya. tapi ia berhasil mendapatkan kembali kesayangan si bapak. si bapak pun bertanya kepada anak itu, bagaimana caranya ia mendapatkan arloji tersebut. si anak menjawab: “saya hanya diam, hening dan mendengarkan detak arloji itu.”

kepanikan kadang lebih besar daripada usaha mencari pemecahan manakala kita dihadapkan dengan suatu masalah. alih-alih berdiam diri sejenak untuk hening sehingga dapat berpikir lebih jernih, kita malah kebingungan. keheningan jadi barang langka.

Walllahualam bishawab.

You Might Also Like

2 komentar

populer...