melamun...

9:20 PM

berapa daya dorong yang tersisa dari sebuah mobil dengan kecepatan sekitar enampuluh kilometer perjam yang kemudian direm dengan mendadak? tidak tahu? saya juga tidak tahu dengan pasti. tapi yang pasti cukup untuk mendorong sebuah sepeda motor untuk melaju lebih cepat. lho?

ceritanya begini. tadi malam sebagai seorang penglaju, depok-jakarta, saya selalu menggunakan kendaraan umum roda empat. soal macet tidak perlu diceritakan lagi. karena tidak ada ruas jalan di jakarta yang tidak kena macet. dari pasar minggu seperti biasa kendaraan berjalan tersendat-sendat. lepas dari pintu kereta barulah agak lancar.

mempersingkat cerita, sampailah di depok, jalan margonda. oh, ya, kemarin malam itu, angkot yang saya tumpangi hanya diisi lima penumpang di belakang (saya tepat di belakang pengemudi) dan seorang di depan. entah karena kosong, entah mengejar setoran, sang pengemudi seperti gugup menjalankan kendaraannya. orang-orang yang berdiri di jalan ditawarkan untuk naik: "timur... timur..." depok timur maksudnya. namun tak ada yang naik.

sampai akhirnya, lewat angkot trayek sama tapi penuh dengan penumpang. si pengemudi kesal hati nampaknya. dipacunya kijang peminum bensin batangannya. ia bermaksud mendahului angkot yang membuatnya 'bete' itu. malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. innalillahi. dari arah kiri muncul sepeda motor dengan kecepatan lumayan tinggi. terpukau atau terkejut dengan motor yang melesat itu, mobil pun direm dengan mendadak. tapi sisa daya dorongnya masih cukup untuk menghantam motor itu.

alhamdulillah. si pengemudi motor, barangkali mantan pembalap, sehingga dapat mengendalikan motornya dan tidak jatuh terguling. padahal hantaman yang diterima cukup keras. motor itu pun tidak mengalami rusak berat. hanya pelat nomor polisinya tertekuk sedikit. yang parah malah angkotnya. bempernya yang terbuat dari fiberglass rontok. alahmdulillah, tak ada kendaraan lain di depan sepeda motor itu. kalau sampai jatuh dan di depannya ada truk, naudzubillah, ia akan menggelosor masuk ke kolong truk.

kalau perilaku pengemudi angkutan umum serta para pengendara motor seperti ini, jalan raya memang bukan tempat yang aman lagi bagi para pemakai jalan raya. memelesetkan slogan di jalan tol: "kalau melamun jangan mengemudi dan kalau mengemudi jangan melamun" bisa dijadikan pegangan.

sayang saya tak sempat menanyakan kepada si pengemudi yang masih belum hilang rasa terkejutnya meski angkot yang dibawanya sudah tiba di depok timur, apakah ia sedang melamunkan sesuatu atau mengapa...

You Might Also Like

1 komentar

populer...